Tags

, ,


PENGERTIAN PEKERJAAN SOSIAL

“The Social Work proffesion promotes social change, problem solving in human relationships and the empowerment and liberation of people to enhance well being.  Utilising theories of human behaviour and social systems, social work intervenes at the points where people interact with their environments.  Principles of human rights and social justice are fundamental to social work”.

SYARAT UTAMA SEBUAH PROFESI

  1. Knowledge (Ilmu Pengetahuan – yang berkaitan dengan profesi dan diperoleh melalui jenjang pendidikan pada tingkatan tertentu, mulai dari SMK, D. III dan seterusnya)
  2. Skill (Keterampilan)
  3. Value (Nilai-nilai)

SYARAT PENDUKUNG PROFESI PEKERJAAN SOSIAL

  1. Attitude (Sikap)
  2. Art (Seni dalam melaksanakan tugas/pekerjaan yang berkaitan dengan profesi)

PRINSIP-PRINSIP ETIK PEKERJAAN SOSIAL

  1. Nilai Pelayanan — Prinsip Etik : Tujuan utama Pekerja Sosial adalah menolong orang yang membutuhkan dan ‘mengantarkannya’ pada pemecahan masalah.
  2. Nilai Keadilan Sosial — Prinsip Etik : Pekerja Sosial menentang ketidakadilan sosial.
  3. Nilai Martabat dan ‘Harga’ (harga diri) seseorang/klien — Prinsip Etik : Pekerja Sosial respek/menerima perbedaan martabat dan harga diri setiap orang/klien.
  4. Nilai Pentingnya relasi antar manusia — Prinsip Etik : Pekerja Sosial mengakui relasi antar manusia sebagai kepentingan yang utama.
  5. Nilai Integritas — Prinsip Etik : Pekerja Sosial menunjukkan sikap dan tingkah laku yang bermartabat dan dapat dipercaya.
  6. Nilai Kompetensi — Prinsip Etik : Pekerja Sosial bekerja dalam ruang lingkup yang sesuai dengan kompetensinya dan selalu berusaha meningkatkan keahliannya.

STANDAR ETIKA

  1. Komitmen terhadap klien (Commitment to Client).
  2. Memberi kesempatan dan menghargai klien untuk menentukan/mengambil keputusan dirinya sendiri (Self Determination).
  3. Membuat perjanjian dengan klien terhadap segala kemungkinan yang akan dicapai dengan sebelumnya memberitahu klien mengenai hasil, resiko, keuntungan atau kerugian yang mungkin akan terjadi dalam proses pelayanan (Informed Consent).
  4. Memiliki kompetensi dalam memahami keanekaragaman sosial budaya (Cultural Competence and Social Diversity).
  5. Tidak memiliki atau terbawa dalam arus konflik kepentingan (Conflict of Interest).
  6. Mengutamakan privasi dan kerahasiaan klien (Privacy and Confidentiality).
  7. Menghindari hubungan khusus atau intim dengan klien yang berbeda jenis kelamin dengan dirinya tetapi tidak pula memilih-milih klien yang harus sama lawan jenis (Sexual Relationship).
  8. Menghindari kontak fisik yang tidak sesuai dengan kebutuhan klien.  Apabila ‘bahasa tubuh’ diperlukan untuk memberikan dukungan atau memberi semangat maka kontak fisik seperti memeluk klien atau menyentuk tangannya dilakukan di ruang yang terbuka, di depan orang lain serta dalam situasi dan kondisi yang memungkinkan (Physical Contact).  Kontak fisik yang juga harus dihindari oleh Pekerja Sosial adalah sentuhan atau tindakan yang merupakan hukuman bagi klien.
  9. Pekerja Sosial harus menghindari daya tarik seksual klien dan tidak boleh melakukan pelecehan seksual, baik melalui kata-kata, pandangan mata maupun sentuhan (Sexual Harassment).
  10. Pekerja Sosial tidak boleh menghina atau menggunakan kata-kata kasar terhadap klien, baik secara lisan maupun melalui tulisan (Derogatory Language).
  11. Pekerja Sosial layak menerima pembayaran atas pekerjaannya sesuai dengan perjanjian, kompetensi dan kinerja yang ditunjukkannya selama proses pelayanan.  Pekerja Sosial tidak boleh meminta lebih dari “standar harga” pelayanan atas proses pertolongan yang diberikannya kepada klien (Payment for Services).
  12. Apabila klien sudah mencapai batas kemampuannya untuk meningkatkan kapasitasnya maka Pekerja Sosial perlu menunjukkan tahap tersebut sebagai langkah yang penting dan merupakan hak klien untuk menghentikan usahanya (Clients Who Lack Decision – Making Capacity).
  13. Pekerja Sosial dapat menghentukan sementara proses pelayanan apabila terjadi beberapa faktor penyebab yang tidak dapat dihindari, seperti perpindahan lokasi (misalnya klien pindah rumah), klien sakit atau mengalami kedukaan (Interruption Services).
  14. Pekerja Sosial menghentikan proses pelayanan/pertolongan apabila masa kontrak sudah selesai, klien perlu dirujuk atau klien memutuskan untuk tidak melanjutkan proses pelayanan (Termination of Services).

UNTUK MENJADI PEKERJA SOSIAL YANG BERKUALITAS DAN “DISUKAI”, PERLU TERUS MENERUS :

1. BELAJAR

  • Formal dan Informal
  • Membaca
  • Menulis (membuat catatan, laporan, kajian, analisis, artikel, dll)
  • Bertanya
  • Mengamati (berbagai obyek yang bukan klien)
  • Membandingkan

2. MELATIH DIRI

  • Perbaiki dan tingkatkan kemampuan bahasa tubuh (body language)
  • Perbaiki dan tingkatkan kualitas suara, intonasi, aksen, dialek, dll
  • Perbanyak dan kembangkan perbendaharaan kosa kata, gunakan kalimat dan istilah yang “tepat sesuai kebutuhan”
  • Pikirkan ide-ide kreatif, ajukan diri untuk merancang pelaksanaannya
  • Menahan diri pada saat yg tepat
  • Mengontrol emosi (≠ menahan marah; emosi yang tidak terkendali bisa berbentuk tertawa terbahak-bahak yang berlebihan atau menangis tersedu-sedu hanya karena terharu)

 3. MENJADI PENDENGAR YANG BAIK

4. DISIPLIN, AWALI DENGAN DIRI SENDIRI

5. MEMILIKI KOMITMEN YANG TINGGI