Tags


Memberdayakan masyarakat mengandung pengertian ruang lingkup yang sangat luas. Memberdayakan masyarakat berarti memberikan kemampuan kepada semua orang yang tinggal dalam suatu wilayah agar mampu memecahkan masalahnya sendiri. Pada kenyataannya, kelompok sasaran dalam program-program pemberdayaan seringkali hanya meliputi sejumlah kecil warga dalam suatu kelompok masyarakat. Penetapan kelompok sasaran seperti ini menimbulkan kecenderungan timbulnya dampak-dampak negatif seperti kecemburuan sosial dan kesenjangan. Di sisi lain, ketika kelompok sasaran mulai meningkat kemampuannya, pada saat yang bersamaan selalu ada kemungkinan kelompok warga lainnya mengalami kemerosotan kualitas hidup. Konsep-konsep pemberdayaan kurang menggambarkan secara tegas, siapa saja yang disebut sebagai masyarakat yang akan ditingkatkan kemampuannya. Dalam program pemberdayaan yang dilaksanakan pemerintah penetapan kelompok sasaran dilakukan dengan menggunakan indikator kemiskinan. Penetapan kelompok sasaran ini cenderung menimbulkan terjadinya pengotak-kotakkan masyarakat menjadi kelas-kelas tertentu yang diukur berdasarkan status sosial ekonomi.

Indikator pemberdayaan yang dikemukakan Suharto (2006) untuk mengetahui fokus dan tujuan pemberdayaan secara operasional cenderung menunjukkan bahwa pemberdayaan lebih ditujukan untuk meningkatkan kemampuan individu. Ini dapat dilihat dari beberapa indikator seperti kemampuan membeli komoditas kecil dan kemampuan membeli komoditas besar. Pertanyaan yang timbul dari penetapan kelompok sasaran dan indikator serupa ini adalah bagaimana meyakinkan warga yang tidak termasuk dalam kelompok sasaran bahwa mereka dipandang sudah mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri. Pertanyaan ini penting karena banyak anggota masyarakat yang merasa dirinya masih miskin (pengertian kemiskinan subyektif) walaupun secara absolut dan relatif ia dinyatakan tidak miskin. Pertanyaan lainnya adalah apa peran anggota masyarakat yang tidak termasuk dalam kelompok sasaran dan bagaimana mereka melakukannya. Pertanyaan ini akan berkaitan lagi dengan pertanyaan ‘seberapa banyak partisipasi anggota masyarakat yang bukan kelompok sasaran dilibatkan dalam program pemberdayaan di lingkungan tempat tinggalnya’ dan secara terus menerus menimbulkan pertanyaan baru yang saling terkait.

Konsep pemberdayaan mengandung makna yang luas sekaligus relatif. Pada suatu wilayah, sekelompok masyarakat mungkin bisa disebut berdaya apabila warga dapat menempuh pendidikan sampai ke tingkat perguruan tinggi. Tetapi pada kelompok yang lain, masyarakat dipandang sudah berdaya apabila mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari walaupun tingkat pendidikannya rendah. Perbedaan pencapaian kondisi berdaya ini menimbulkan suatu pertanyaan mengenai kondisi optimal seperti apa yang diharapkan dapat dicapai oleh masyarakat untuk bisa disebut berdaya ?. Masyarakat mungkin saja dapat disebut sudah berdaya ketika mereka memperoleh hak politiknya dalam pemilihan legislatif tetapi pada saat yang sama anggota masyarakat lainnya dipandang lebih berdaya karena ada warganya yang terpilih menjadi anggota DPRD.

Konsep pemberdayaan mengandung makna yang komprehensif. Penjelasan Ife dan Tesoriero (2008) mengenai pengembangan masyarakat terpadu menunjukkan bahwa pemberdayaan harus dilakukan secara terintegrasi. Penguatan kemampuan masyarakat tidak bisa dilakukan hanya dengan memusatkan perhatian pada satu dimensi. Dari pengertian yang komprehensif ini timbul lagi serangkaian pertanyaan, siapa saja yang harus melakukan upaya pemberdayaan ?, siapa melakukan apa ? dan bagaimana mereka melakukannya ?. Pertanyaan-pertanyaan yang timbul berkaitan dengan penetapan kelompok sasaran, indikator keberdayaan, peran masyarakat dalam pemberdayaan dan pelaku-pelaku program mungkin tidak bisa dijelaskan secara konkrit dengan menggunakan tolok ukur yang baku. Namun kajian terhadap pengertian mengenai masyarakat sebagai suatu sistem, pengertian mengenai masyarakat aktif dan pengertian mengenai agen perubahan yang diuraikan berikut ini diharapkan dapat membantu untuk memberi gambaran mengenai kondisi optimal yang bisa dicapai melalui pemberdayaan.

  1. Teori Dasar – Teori Sistem Umum

Parsons dalam Poloma (2007 : 171) menjelaskan bahwa “masyarakat adalah sistem sosial yang dilihat secara total. Bila sistem sosial tersebut dilihat sebagai sebuah sistem parsial maka masyarakat merupakan jumlah dari banyak sistem yang kecil, seperti keluarga, sistem pendidikan dan lembaga-lembaga keagamaan”. Parson mengatakan bahwa sistem sosial cenderung bergerak ke arah keseimbangan atau stabilitas di mana keteraturan merupakan norma sistem. Bila terjadi kekacauan norma-norma maka sistem akan mengadakan penyesuaian dan mencoba kembali mencapai keadaan normal. Landasan yang digunakan Parsons untuk mengukuhkan teorinya bertindaknya di dalam kompleksitas sistem sosial adalah “Pattern variables”, yaitu :

a. Affective versus affective neutrality

Dalam suatu hubungan sosial orang bisa bertindak untuk pemuasan afeksi/kebutuhan emosional atau bertindak tanpa unsur afeksi itu (netral).

b. Self-orientation versus collective-orientation

Dalam hubungan yang berorientasi hanya pada dirinya orang mengejar kepentingan pribadi, sedang dalam hubungan berorientasi kolektif, kepentingan tersebut sebelumnya telah didominir oleh kelompok.

c. Universalism versus particularism

Dalam hubungan yang universalistis, para pelaku saling berhubungan menurut kriteria yang dapat diterapkan kepada semua orang; sedang dalam hubungan partikularistik digunakan ukuran-ukuran tertentu.

d. Quality versus performance

Variabel quality menunjuk pada “status askrib” (ascribed status) atau keanggotaan dalam kelompok berdasarkan kelahiran. Performance berarti prestasi (achievement) atau apa yang dicapai oleh seseorang.

e. Specificity versus diffusness

Dalam hubungan yang spesifik, orang dengan orang lain berhubungan dalam situasi yang terbatas atau segmented, misalnya hubungan yang berdasarkan jual beli. Sedangkan hubungan keluarga adalah contoh hubungan diffuse, di mana semua orang (bukan karena status tertentu) terlibat dalam proses interaksi.

Teori sosiologis Parsons merupakan teori sosiologis yang kompleks karena ia memasukkan berbagai sumber, seperti studi biologi, ekonomi, sosiologi dan psikologi. Menurut Poloma (2007 : 179), “Parsons beranggapan bahwa sosiologis tidak berdiri sendiri tetapi sangat erat berkaitan dengan ilmu-ilmu perilaku (behavioral) termasuk ilmu ekonomi dan politik serta beberapa aspek dari biologi, antropologi serta psikologi”. Teori dan landasan pemikiran yang dikemukakan Parsons membantu menjelaskan alasan perencanaan model intervensi yang komprehensif untuk menanggulangi kemiskinan. Suatu masalah tidak dapat dipandang dan diselesaikan dengan salah satu aspek atau satu bidang ilmu saja. Masyarakat terdiri dari banyak sub sistem oleh karena itu intervensi terhadap suatu masalah harus diarahkan kepada intervensi masyarakat secara keseluruhan sebagai suatu sistem.

Untuk menanggulangi masalah kemiskinan dalam suatu komunitas, rasanya kurang tepat sasaran program hanya difokuskan pada kelompok keluarga miskin saja. Keluarga miskin merupakan salah satu sub sistem yang dapat dikontrol atau ditingkatkan kemampuannya apabila masyarakat sebagai sebuah sistem memiliki tingkat keswadayaan yang cukup tinggi. Parsons dalam Poloma (2007 : 186) mengatakan kondisi ini sebagai masalah pokok sosiologi makro, yaitu :

“masyarakat hanya merupakan contoh dari sistem sosial tetapi merupakan substansi yang paling penting untuk dianalisa; kita membatasi masyarakat sebagai suatu tipe sistem sosial yang ditandai oleh tingkat swadaya (self-sufficiency) tertinggi dalam konteks lingkungannya, termasuk sistem sosial lain”.

Dalam kegiatan praktikum, intervensi tidak hanya dilakukan kepada kelompok keluarga miskin. Intervensi dilakukan untuk mengubah pemahaman, meningkatkan kesadaran dan menggerakkan seluruh unsur atau sub sistem dalam komunitas sehingga mau dan mampu secara swadaya menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi masalah dalam komunitasnya.

  1. Model Sinernetika

Teori Parsons merupakan teori masyarakat berskala makro yang juga mengalami modifikasi. Salah satu modifikasi Parsons terhadap teorinya adalah perpindahan dari pengembangan keseimbangan (yang menekankan stabilitas sistem) ke konsep homeostatis atau keseimbangan dinamis dan akhirnya kepada model sibernetika teori sistem yang umum. Parsons dalam Poloma (2007 : 187) menyatakan :

“1) sibernetika lebih menjelaskan masalah kontrol dalam masyarakat, 2) melampaui argumen “apa yang menentukan apa” dengan mengakui bahwa kombinasi dari berbagai faktor sama-sama terjadi melalui suatu proses umpan balik, dan 3) menolong membuka kemungkinan-kemungkinan baru sehubungan dengan masalah-masalah yang mengganggu stabilitas dan perubahan sistem”.

Parsons memajukan teori evolusioner dalam model sibernetika tersebut, yang menjelaskan gerakan masyarakat dari primitif ke modern terjadi melalui empat proses perubahan struktural utama, yaitu diferensiasi, pembaharuan bersifat penyesuaian, pemasukan (adaptive upgrading) dan generalisasi nilai. Teori evolusioner Parsons mengarah pada peningkatan kemampuan sistem untuk mengendalikan lingkungannya.

  1. Masyarakat Aktif

Masyarakat aktif (The Active Society) yang dikemukakan oleh Etzioni dalam Poloma (2007 : 354) merupakan penyelarasan teori ilmu sosial dengan sebuah partisipasi aktif dalam perubahan sosial. Etzioni dalam menerapkan pendekatannya menggunakan model sibernetik, yaitu model yang merupakan dasar bagi teori sistem umum atau teori sistem modern. Teori sistem umum itu sendiri dikemukakan oleh Talcott Parsons dalam Poloma (2007 : 167 – 198) dan termasuk dalam kelompok teori sosiologis naturalis.

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teori-teori ilmu-ilmu sosial, Etzioni menurut Poloma (2007 : 352 – 373) berusaha mensintesakan model sosiologi yang berdasarkan ilmu alam dengan pendekatan evaluasi terhadap teori. Melalui model sibernetik yang menjadi dasar modelnya, Etzioni mencoba menjawab empat masalah dasar, yaitu :

a. Bagaimana seseorang mengendalikan masa depannya ?

b. Bagaimana masa depan itu agar lebih sedikit ditentukan oleh nasib dan lebih banyak ditentukan tindakan rasional tetapi bersifat spontan ?

c. Bagaimana aktor individual diarahkan ?

d. Sejauhmana kebenaran kekuatan self control-nya ?

Dalam kerangka teoritisnya, Etzioni mengemukakan bahwa masyarakat aktif adalah masyarakat yang menguasai dunia sosial mereka. Mereka sangat berbeda dari masyarakat pasif di mana para anggotanya dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan luar atau kekuatan aktif lainnya. Dalam masyarakat seperti itu, manusia adalah pencipta, dapat membentuk masyarakat untuk menanggulangi kebutuhan-kebutuhannya. Tiga komponen dasar dalam orientasi aktif menurut Etzioni adalah : kesadaran pribadi, pengetahuan para aktor dan komitmen pada satu atau lebih tujuan yang harus dicapai serta fasilitas kekuasaan untuk mengubah tatanan sosial.

Berdasarkan hasil identifikasi masalah yang peneliti lakukan pada saat praktikum, tiga komponen dasar dalam orientasi aktif sebagaimana dikemukakan oleh Etzioni, relatif rendah dalam komunitas di lokasi praktikum. Pemahaman warga terhadap kondisi kemiskinan yang dialaminya atau dialami oleh anggota komunitasnya lebih dikaitkan dengan kondisi musim kemarau yang menyebabkan mereka tidak dapat bekerja di kebun dan penyaluran bantuan yang disediakan oleh Pemerintah. Pengetahuan para aktor yang rendah dalam komunitas ditunjukkan dengan tingkat pendidikan warga yang umumnya hanya sampai pada Sekolah Dasar dan keterampilan yang terbatas. Sedangkan rendahnya komitmen komunitas terhadap suatu tujuan terlihat dari rendahnya partisipasi warga dalam berbagai kegiatan kolektif yang tidak memberikan keuntungan bagi perorangan.

Etzioni dalam Poloma (2007 : 355) mengakui bahwa “kegiatan dengan orientasi aktif bukan tanpa kendala, sebab setiap aksi melahirkan kontra-aksi”. Etzioni mengatakan bahwa manusia aktif bukan mereka yang semata-mata melakukan segala keinginannya. Untuk bertindak (tepat), manusia yang memiliki orientasi aktif harus mencari pengetahuan atau informasi, ia harus bersedia menunda ganjaran (imbalan) pribadi sehubungan dengan realisasi tujuan-tujuan kemasyarakatan yang lebih sempurna. Etzioni mengemukakan teori masyarakat yang mampu mengendalikan diri (Theory of societal self-control). Ia mengatakan bahwa para sosiolog harus belajar memanfaatkan energi sosial. Etzioni juga meyakini bahwa pengetahuan merupakan kunci untuk memahami dan mewujudkan masyarakat “selfguiding”. Studi transformasi sosial yang dijelaskan oleh Etzioni dalam Poloma (2007 : 356) adalah sebagai berikut :

“Transformasi merupakan penjelajahan suatu masyarakat yang mengenal dirinya sendiri, dengan maksud untuk mewujudkan segera nilai-nilainya yang lebih sempurna; yang merasa pentingnya transformasi dilakukan, dan mampu mengukur kemampuan-kemampuannya demi terlaksananya perubahan tersebut – bila tidak demikian masyarakat dengan sendirinya akan mengalami kehancuran. Masyarakat seperti inilah yang akan menjadi masyarakat aktif”.

Dalam pengembangan teorinya, Etzioni mengemukakan faktor-faktor sibernetika yang penting dalam masyarakat aktif, yaitu pengetahuan dan pengambilan keputusan sedangkan yang menjadi faktor kunci adalah kekuasaan. Proposisi yang diketengahkan Etzioni berkaitan dengan kesadaran dan aktivitas, adalah :

a. Peningkatan kesadaran yang diharapkan akan melahirkan gerakan hanya akan terjadi kalau elemen-elemen lain dari orientasi aktif juga meningkat atau elemen-elemen lain yang lebih tinggi dibanding dengan kesadaran kemasyarakatan.

b. Bilamana tingkat kesadaran tinggi tetapi tingkat komitmen rendah, kita akan melihat suatu masyarakat yang “acuh tak acuh” (masyarakat dekaden).

c. Bilamana tingkat kesadaran tinggi tetapi tingkat pengetahuan rendah, efek utamanya adalah mempertinggi rasa ketidakberdayaan pelaku mengatasi masalah-masalah sendiri.

Merujuk pada pemahaman mengenai masyarakat aktif seperti yang dikemukakan oleh Etzioni, model intervensi yang diimplementasikan pada komunitas bertujuan untuk memobilisasi energi sosial yang dimiliki warga agar menjadi suatu kekuatan penggerak sehingga mereka dapat berkembang menjadi komunitas yang aktif dan mencapai suatu tingkatan mandiri dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh anggota-anggotanya. Etzioni mengatakan bahwa masyarakat self-guiding harus menggabungkan dua komponen dasar, yaitu kontrol dan pengembangan konsensus. Etzioni mempercayai bahwa pada masyarakat demokratis sarana-sarana penyelesaian tugas ini adalah dengan mengurangi penggunaan paksa dan persuasi dan lebih banyak menggunakan pendidikan. Etzioni juga menjelaskan bahwa harus ada suatu “kebebasan terencana” (planned freedom) atau pengarahan yang menuntun anggota masyarakat bersikap bebas, yaitu sekalipun kontrol makin bertambah tetapi kontrol yang membiarkan lebih banyak kebebasan. Salah satu contoh yang dikemukakan oleh Etzioni adalah sistem jaminan sosial, di mana sebagian besar karyawan atau pegawai, lewat peraturan, diharuskan menyerahkan persentase tertentu pendapatannya (premi) sebagai jaminan sosial atau dana pensiun. Peraturan untuk membayar premi tersebut merupakan kontrol tetapi hal ini memberikan “kebebasan” untuk mengetahui bahwa seseorang akan memperoleh penghasilan setelah lewat masa kerja (purna karya).

Kebebasan terencana seperti yang dijelaskan oleh Etzioni sudah mulai diterapkan kepada komunitas di lokasi penelitian melalui kegiatan koperasi. Bentuk kontrol dalam kegiatan koperasi antara lain : penetapan jumlah simpanan dan kewajiban untuk menabung (simpanan sukarela) setiap bulan, peruntukkan dana koperasi yang hanya boleh dipinjam untuk kebutuhan non konsumsi, jumlah dana maksimal yang boleh dipinjam, dan tanggung jawab setiap anggota koperasi. Penetapan kontrol tersebut bertujuan untuk mengendalikan anggota koperasi agar mengarahkan tindakannya pada komitmen dan pencapaian konsensus bersama. Kebebasan yang diberikan pada anggota koperasi adalah adanya jaminan bahwa mereka mempunyai sejumlah dana yang dapat digunakan atau dipinjam setiap saat apabila mereka membutuhkan biaya untuk kebutuhan pendidikan atau usaha ekonomis produktif.

  1. Agen yang berpotensi menggerakkan kemajuan

Faktor penting yang sangat dibutuhkan untuk mengembangkan dan menggerakkan komunitas ke arah masyarakat aktif adalah agen yang berpotensi menggerakkan kemajuan. Menurut Sztompka (2008 : 40 – 41), ciri-ciri agen yang berpotensi menggerakkan kemajuan adalah :

a. Ciri-ciri aktor

Ada beberapa ciri aktor yang berlawanan sehingga bisa dibandingkan.

1) Aktor mungkin kreatif, inovatif, berorientasi prestasi atau sebaliknya : pasif, konservatif dan berorientasi pada posisi askriptif.

2) Aktor mungkin saja memiliki kesadaran diri tentang situasi sosial mereka secara memadai atau sebaliknya : tidak menghiraukan sama sekali, terperangkap dalam mitologi atau mempunyai kesadaran palsu.

Ciri-ciri yang dominan akan menentukan kualitas agen.

b. Ciri-ciri struktural

1) Aktor mungkin kaya dengan gagasan, pluralistis, heterogen dan kompleks atau sebaliknya : miskin gagasan, terbatas, homogen dan sederhana.

2) Aktor mungkin terbuka, lentur, toleran, bersedia menghimpun orang dari berbagai lapisan atau sebaliknya : tertutup, kaku, dogmatis dan menentang sesuatu yang baru.

Ciri-ciri yang dominan akan tercermin dalam kualitas agen.

c. Ciri-ciri lingkungan

Ciri-ciri lingkungan di mana masyarakat itu berada akan menimbulkan dampak pada dua tingkat, melalui kondisi obyektif dan melalui sikap subyektif, yaitu :

1) Kondisi alam mungkin menguntungkan, kaya sumber daya dan mudah digarap atau sebaliknya : gersang, miskin dan terlarang.

2) Masyarakat mungkin berupaya mengolah, mengubah dan menaklukkan, menyesuaikan kebutuhan dan aspirasi mereka terhadap alam atau sebaliknya : mereka semata-mata hanya ingin menyesuaikan diri terhadap alam, tetap dalam keadaan tunduk dan pasif.

d. Dimensi sejarah masyarakat.

Dimensi sejarah masyarakat tidak dapat dikurangi. Dalam keadaan demikian, ada orang-orang tertentu yang menekankan ciri tradisi pada tingkat obyektif dan subyektif, yaitu :

1) Di tingkat obyektif : apakah tradisi ditandai oleh kelangsungan, konsistensi dan mempunyai sejarah yang panjang atau sebaliknya: ditandai oleh kerusakan, tidak berkelanjutan dan bermakna ganda.

2) Di tingkat subyektif : sikap hormat dan terikat pada tradisi mungkin berlawanan dengan sikap pamer dan penolakan terhadap masa lalu. Sikap pamer dan penolakan terhadap masa lalu ini ditengarai sebagai ciri khas pada generasi masa kini.

e. Ciri-ciri masa depan

1) Sikap optimis yang berlawanan dengan pesimis, kecewa dan putus asa.

2) Keyakinan bahwa masa depan tak pasti dan menggantungkan keberhasilan semua rencana pada upaya manusia berlawanan dengan semua ciri-ciri fatalisme.

3) Citra jangka panjang atau rencana strategis untuk masa depan sangat berbeda dari rencana jangka pendek, harapan segera atau sikap oportunis.

Ciri-ciri aktor yang berpotensi menggerakkan kemajuan sangat sedikit ditemukan dalam komunitas yang diteliti. Ciri-ciri positif yang cukup banyak ditemukan pada banyak aktor komunitas adalah terbuka, lentur, toleran dan bersedia menghimpun orang dari berbagai lapisan. Ciri-ciri aktor yang berpotensi justru terlihat pada beberapa warga yang bukan aktor komunitas. Pemahaman mengenai ciri-ciri aktor yang berpotensi ini dapat digunakan untuk melakukan proses regenerasi dan kaderisasi agar muncul aktor-aktor baru yang lebih potensial yang dapat menggerakkan komunitas.

Ciri-ciri aktor yang berpotensi menurut Etzioni dikembangkan lebih luas oleh Sztompka (2008 : 41) yang mengatakan bahwa “agen hanya mungkin berfikir progresif jika ia memiliki dua syarat : motivasi dan peluang”. Agen hanya mungkin menjadi progresif jika ia mau bertindak dan dapat bertindak. Situasi seperti itu, menurut Sztompka, dapat diperkirakan dengan menghubungkan kondisi di titik awal setiap dikotomi, yakni dengan menggabungkan 1) aktor yang kreatif, otonom dan tahu diri, 2) struktur yang lentur dan kaya, 3) lingkungan alam yang menantang dan ramah, 4) tradisi yang bekelanjutan dan berwibawa serta 5) optimis dan mempunyai rencana jangka panjang untuk masa depan.