Tags

,


KORELASI NEGATIF ANTARA KEMAMPUAN INTELEKTUAL DENGAN TINGKAT PARTISIPASINYA DAN PERAN PEKERJA SOSIAL DALAM MENGORGANISIR PARTISIPASI MASYARAKAT 

Definisi Partisipasi menurut para ahli dan menurut Undang-undang, antara lain :

Ø  prinsip bahwa setiap orang memiliki hak untuk terlibat dalam pengambilan keputusan di setiap kegiatan penyelenggaraan pemerintahan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Ø  partisipasi rakyat dalam pembangunan sebagai dukungan rakyat terhadap rencana proyek pembangunan yang dirancang dan ditentukan tujuannya oleh perencana.

Ø  partisipasi dalam pembangunan merupakan kerjasama yang erat antara perencana dan rakyat dalam merencanakan, melaksanakan, melestarikan dan mengembangkan hasil pembangunan yang telah dicapai.

Ø  partisipasi masyarakat adalah keikutsertaan masyarakat untuk mengakomodasikan kepentingan mereka dalam proses penyusunan rencana pembangunan (UU 25/2004).

Partisipasi masyarakat dalam Pemerintahan Lokal tidak saja tergantung pada metode yang benar dalam mengorganisirnya tetapi juga mengandalkan dan sangat tergantung pada dedikasi dan komitmen, baik dari Pemerintah Lokal itu sendiri maupun dari masyarakat.  Dalam waktu yang lama, seringkali individu-individu kemudian percaya pada etos partisipasi itu sendiri.  Cornwall (2002) bahkan menyatakan bahwa wacana partisipasi mengalami perubahan dalam pembangunan, dari ‘partisipasi para pemanfaat” kepada partisipasi warga yang lebih “politis” dan berdasarkan pendekatan hak.  Penyusun melihat bahwa pengaruh tingkat intelektual seseorang terhadap tingkat partisipasinya tidak serta merta menjadi korelasi linear.  Tingkat intelektual individu yang tinggi tidak secara otomatis membuat tingkat partisipasinya menjadi tinggi pula.

Masyarakat pedesaan dan masyarakat miskin sering kali dikategorikan sebagai individu-individu yang memiliki tingkat intelektual rendah sehingga tingkat partisipasinya rendah pula.  Menurut penyusun tidak demikian.  Masyarakat miskin dengan tingkat intelektual yang rendah akan termotivasi untuk ikut berpartisipasi apabila ia dapat memperkirakan atau merasakan berapa besar keuntungan yang akan ia peroleh dari partisipasinya.  Sebagai contoh, dalam perencanaan pembangunan desa, warga yang merasa tidak akan mendapatkan keuntungan mungkin akan menunjukkan perilaku yang apatis dan tidak mau untuk berpartisipasi sedangkan mereka yang dapat memperhitungkan keuntungan yang akan diperoleh (langsung maupun tidak langsung) akan berpartisipasi dengan tingkatan yang berbeda.  Sebaliknya, masyarakat di perkotaan yang sering diasumsikan sebagai individu-individu berintelektual tinggi, tidak selalu akan menunjukkan partisipasinya, terutama bila berdasarkan penalaran dan rasionalisasi intelektualnya mereka sudah dapat memperhitungkan berapa besar dampak positif yang akan terjadi dan apakah hal tersebut akan berpengaruh bagi kehidupannya.  Apabila berbagai rencana atau implementasi terhadap suatu hal seringkali mengalami kegagalan maka orang-orang yang tingkat intelektualnya tinggi justru akan bersikap lebih apatis dan semakin enggan berpartisipasi.  Penyusun melihat lebih mudah untuk mengorganisir atau menghimpun partisipasi dari orang-orang yang tingkat intelektualnya rendah apabila proses ‘penyadaran terhadap tanggung jawab dan manfaat/keuntungan yang akan diperoleh’ dilakukan secara benar daripada mengorganisir atau menghimpun partisipasi dari orang-orang yang tingkat intelektualnya tinggi yang cenderung melakukan ‘tawar menawar’ berdasarkan logika, penalaran dan rasionalitasnya.

Pekerja Sosial mempunyai tugas yang lebih berat pada saat berhadapan dengan orang-orang yang mempunyai intelektual tinggi.  Pekerja Sosial harus menyiapkan dan menguasai segala sesuatu materi yang berkaitan dengan tujuan yang ingin dicapai, keuntungan yang akan diperoleh, kegagalan yang mungkin timbul dan alternatif-alternatif yang diperlukan apabila terjadi kegagalan.  Pada saat berhadapan dengan individu atau kelompok yang mempunyai intelektual rendah, Pekerja Sosial dapat menghimpun partisipasi dengan lebih mudah apabila ia dapat menyampaikan gagasan, alternatif dan keuntungan yang akan diperoleh dengan metode dan teknik-teknik yang tepat serta dapat ‘mengusik’ rasa tanggung jawab maupun harga diri individu atau kelompok tersebut.  Satu catatan penting untuk Penyusun adalah : Orang yang memiliki intelektual rendah tidak selalu adalah orang miskin dan sebaliknya, orang dengan tingkat intelektual tinggi tidak selalu akan menjadi orang kaya.  Kekayaan atau kemiskinan seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor dan salah satunya adalah tingkat partisipasi.