Tags

,


Pendekatan Sistem untuk merancang Program Pelayanan yang Efektif bagi suatu masyarakat (Konsep Input, Throughputs, Process, Output dan Outcomes) 

PEMBERDAYAAN SOSIAL DAN EKONOMI MASYARAKAT PESISIR PANTAI DI DESA TABLOLONG – KEC. KUPANG BARAT, KAB. – NUSA TENGGARA TIMUR 

I.    PENDAHULUAN 

A. LATAR BELAKANG PEMILIHAN KOMUNITAS SASARAN PROGRAM DAN LOKASI

Kabupaten Kupang merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur.  Kabupaten Kupang mempunyai luas daratan 7.178,26 km² dan meliputi 15,16% dari luas seluruh daratan Nusa Tenggara Timur.  Penduduk Kabupaten Kupang pada Tahun 2005 berjumlah 350.972 jiwa (data BPS Tahun 2008) yang terdiri dari 78.224 Rumah Tangga atau Kepala Keluarga.  Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2008 (data terlampir), Kabupaten Kupang merupakan Kabupaten yang jumlah rumah tangga miskinnya menempati urutan kedua setelah Kabupaten Sumba Barat.  Hal ini cukup ironi apabila dilihat dari segi kondisi geografis Kabupaten Kupang yang sangat dekat bahkan merupakan supra sistem Kota Kupang yang merupakan ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur, memiliki potensi sumber daya alam yang cukup melimpah dan menjadi kontributor terbesar untuk beberapa jenis komoditi.  Di samping itu, Kabupaten Kupang telah berhasil memekarkan atau melahirkan wilayah administratif baru dalam 10 tahun terakhir, yaitu Kota Kupang (ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur) dan Kabupaten Rote Ndao.

Pada Tahun 1999, pendapatan per-kapita Kabupaten Kupang sebesar Rp. 1.400.000,- atau sama dengan pendapatan regional per-kapita Provinsi Nusa Tenggara Timur.  Kabupaten Kupang sesungguhnya memiliki banyak keunggulan, terutama di sektor pertanian.  Pada tahun 1999 kontribusi sektor pertanian mencapai 47,5% terhadap total kegiatan ekonomi yang nilainya Rp. 578,2 milyar.  Unggulan utama sektor ini adalah tanaman bahan makanan.  Tahun 1999, produksi padi di Kabupaten Kupang mencapai jumlah 67.127 ton.  Jumlah tersebut menempatkan Kabupaten Kupang di urutan kedua sebagai lumbung padi Provinsi Nusa Tenggara Timur setelah Kabupaten Manggarai.  Produksi kacang tanah Kabupaten Kupang yang besarnya 2.703 ton atau 22,8% menjadi yang terbesar untuk tingkat provinsi.  Potensi sektor pertanian ini menjadi sangat besar mengingat 85% penduduk usia kerja 10 tahun ke atas mempunyai matapencaharian di bidang tersebut.  Produksi subsektor pertanian lain yang diunggulkan selain tanaman bahan makanan adalah perkebunan, utamanya kapuk.  Produksi kapuk Kabupaten dan Kota Kupang tahun 1999 meliputi 51,03% dari jumlah produk kapuk tingkat provinsi atau setara dengan 1.413 ton.  Produk ini banyak dipakai dalam industri rakyat tenun ikat tradisional.

Wilayah perairan Kabupaten Kupang seluas 46.780 km², jauh lebih luas dari wilayah daratannya.  Wilayah perairan ini menyimpan kekayaan alam laut yang sangat potensial untuk dibudidayakan.  Saat ini sedang dikembangkan budidaya mutiara yang dipelopori oleh investor dari Jepang dan oleh Pemerintah Daerah setempat juga sedang digalakkan budi daya tanaman rumput laut, ikan kerapu dan teripang.  Selama tahun 1999 Kabupaten Kupang menghasilkan 41,6% ikan laut untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Mencermati berbagai potensi yang dimiliki oleh Kabupaten Kupang maka kemiskinan di daerah tersebut merupakan hal yang patut untuk dikaji dan dicari alternatif pemecahannya.  Pada kesempatan ini Penyusun mencoba melakukan assessment dan perencanaan program pemberdayaan bagi komunitas masyarakat pesisir di Kelurahan Tablolong – Kecamatan Kupang Barat. 

B.  DESKRIPSI KONDISI GEOGRAFIS, SOSIAL, EKONOMI DAN BUDAYA 

1. Kondisi Geografis

Secara geografis dan meteorologis, Kabupaten Kupang memiliki banyak kesamaan (atau mungkin kurang beruntung) bila dibandingkan dengan daerah lain di Nusa Tenggara Timur.  Kabupaten Kupang terdiri dari 29 kecamatan yang meliputi 27 pulau, 18 buah pulau diantaranya telah bernama dan 9 buah pulau belum diberi nama. Pulau yang telah berpenghuni sebanyak 5 pulau, yaitu :

·         Pulau Timor dengan luas 4.937.62 Km2,

·         Pulau Sabu dengan luas 423.81 Km2,

·         Pulau Semau dengan luas 246.66 Km2,

·         Pulau Raijua seluas 36.97 Km2 dan

·         Pulau Kera seluas 1,5 km2.

Secara geografis Kabupaten Kupang terletak pada 121°.30’ BT – 124°.11’ BT dan 9°.19’ LS – 10°.57’ LS, dengan batas–batas wilayahnya:

Ø Sebelah Utara Berbatasan dengan Laut Sawu, selat Ombai

Ø Sebelah Selatan Berbatasan dengan Samudra Hindia

Ø Sebelah Timur Berbatasan dengan Kab. TTS dan Ambeno/ Timor Leste.

Ø Sebelah Barat berbatasan dengan kabupaten Rote Ndao dan laut Sawu

Kabupaten Kupang umumnya beriklim tropis dan kering yang juga cenderung dipengaruhi oleh angin dan dikategorikan sebagai daerah semi arid karena curah hujan yang relatif rendah dan keadaan vegetasi yang didominasi savana dan stepa. Dengan kondisi iklim seperti ini maka musimnya sangat pendek yaitu 3-5 bulan pada bulan Desember sampai dengan Maret, sedangkan musim kemarau 7-8 bulan.  Sekitar 3% atau 7.453 ha dari luas wilayah kabupaten Kupang merupakan tanah sawah kering, dan 97% atau sekitar 572.365 ha merupakan tanah kering dalam pekarangan atau tegalan.

Tekanan udaranya berkisar antara 926,3 milibar, arah dan kecepatan angin mencapai 6 knot/jam. Suhu udaranya berkisar 240 – 340 dengan kelembaban udara rata-rata 75-76% RH.  Kabupaten Kupang merupakan kabupaten yang tofographinya bergunung-gunung dan berbukit dengan derajat kemiringan sampai 45O. Permukaan tanah kritis dan gundul sehingga peka terhadap erosi. Namun pada hamparan dataran rendah merupakan lahan yang subur dan luas dimana biasanya penduduk kabupaten Kupang terkonsentrasi disana.

Topographi yang seperti ini menimbulkan isolasi fisik, isolasi ekonomi dan isolasi sosial, apalagi oleh kurangnya dukungan infrastruktur seperti jalan dan jembatan diberbagai kecamatan. Sementara transportasi kepulau-pulau tertentu seringkali agak mahal karena rendahnya frekwensi sarana perhubungan kebeberapa pulau, dimana hal tentunya juga mempengaruhi harga barang dan jasa dipulau-pulau tertentu.

Khusus untuk Kecamatan Kupang Barat, maka gambaran umumnya adalah sebagai berikut :

a.  Geografi

Ø  Jumlah desa           : 10 desa dan 2 Kelurahan

Ø  Luas                       : 149.72  Km²

Ø  Luas lahan basah   : 532 Ha

Ø  Irigasi                    : 78 Ha

Ø  Tadah Hujan          : 210 Ha

Ø  Luas Lahan Kering : 7132 Ha

Ø  Pekarangan            : 382 Ha

Ø  Tegalan                  : 2171 Ha

Ø  Ladang/Huma         : 2413 Ha

Ø  Lain-Lain                : 5162 Ha

b.  Demografi

Ø  Jumlah Penduduk       : 13.430 jiwa

Ø  Kepadatan Penduduk : 90 jiwa/Km

Ø  Laki-laki                     : 6.877 jiwa

Ø  Perempuan                 : 6.553 jiwa

Ø  Jumlah KK                   : 3.018 jiwa

Ø  Jml RT Miskin Th. 2005 : 2197 Jiwa

c.  Sarana dan Prasarana

Ø  Telepon                        : Lokal/Interlokal

Ø  Air Bersih                      : PDAM/Mata Air

Ø  Listrik                            : PLN

Ø  Transportasi                  : Jalan Aspal

Ø  Terjangkau                    : Roda 2 dan Roda 4

d.  Infrastruktur

Ø  Jalan Propinsi                 : Ada

Ø  Jalan Kabupaten             : Ada

Ø  Terminal                        : Ada

Ø  Embung                          : Ada  

2. Kondisi Sosial

a.  Kesehatan

Permasalahan kesehatan di Kabupaten Kupang pada saat ini antara lain masih tingginya angka kematian ibu melahirkan (302 per 100.000 kelahiran hidup), masih tingginya angka kematian bayi (15,1 per 1000 kelahiran hidup), masih tingginya kejadian penyakit yang berpotensi wabah seperti malaria, infeksi pernapasan akut  dan diare serta masih tingginya kejadian gisi buruk (33,2%).  Oleh karena itu pemerintah Kabupaten Kupang mengembangkan Jaminan Kesehatan Kabupaten Kupang (JK3) sebagai suatu bentuk kebijakan yang didasarkan pemikiran-pemikiran bahwa kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat harus ditingkatkan; pelayanan kesehatan harus dapat terjangkau oleh seluruh masyarakat; perlu adanya subsidi kesehatan yang diperuntukkan bagi masyarakat dalam menjamin kesehatannya dengan tetap mempersiapkan masyarakat mampu mengelola jaminan kesehatannya secara mandiri.

b.  Pendidikan

Data pada Sub Dinas Pendidikan Luar Sekolah Pemuda dan Olahraga Dinas Pendidikan Kabupaten Kupang memperlihatkan angka buta huruf usia 15 tahun sampai 45 tahun diwilayah itu: 43.453 orang, masing-masing perempuan 22.303 dan pria 21.146. Angka diperinci buta huruf dnegan usia 45 tahun keatas: 4511 orang (pria: 2409 dan wanita: 2102). Melalui Dinas Dikbud akan dialokasikan lagi melalui pos dana dekonsentrasi 2004-2006 untuk menuntaskan 4616 orang sehingga tersisa 38.843 orang yang akan dituntaskan secara bertahap tahun anggaran berikutnya. 

Kini, pemerintah Kabupaten Kupang sudah merancang tuntas melek huruf secara bertahap dari kurun 2006 sampai 2009. Tahun 2006 diusulkan biaya tambahan 200 orang, sehingga tahun 2007-2009 dituntaskan 18.221 orang untuk capai target 50 persen tahun 2009 nanti. jadi 2007-2008-2009 dituntaskan tiap tahun 6407 0rang usia 15 tahun sampai 45 tahun. Jumlah ini ditambah usia 45 tahun keatas 751 orang. jadi tiap tahun sepanjang 2007 sampai 2009 akan menuntaskan 7158 orang. Jumlah angka ini akan tuntas namun membutuhkan biaya yang besar yaitu sebesar Rp. 1,6 milyar. Hitungannya satu kelompok belajar dari total 7000 kelompok belajar akan didanai Rp.2.630.000. Program ini disebarkan di 22 kecamatan dan kecamatan pemekaran.  Selain Tuntas melek huruf, juga sedang digodok program paket A setara SD, Paket B setara SLTP dan paket C setara SMU. Program ini dirancang untuk memberdayakan warga drop out SD, SLTP dan SMU. Angka drop out didaerah ini masing-masing : SD: 37.058, SMP: 7538 dan SMU: 4797. Telah diusahakan pengkajian yang mendalam agar tidak terjadi pengulangan data pada lembaga Mitra

c.   Agama

Selain budaya yang beraneka ragam, kabupaten Kupang juga mempunyai komposisi penduduk  juga beraneka ragam. Keaneka ragaman seperti ini menjadikan warga Kabupaten dapat hidup saling berdampingan satu dengan lainnya secara damai. Mayoritas Penduduk kabupaten Kupang memeluk Agama Kristen Protestan, kemudian diikuti agama Katholik, Islam, Hindu dan Budha.  Selain 5 agama yang telah diakui oleh pemerintah, juga ada agama yang khas dan hanya yang berkembang di Pulau Sabu yang oleh penduduk lokal dinamakan: Jingitiu. Kepercayaan merupakan kepercayaan yang bersifat animisme. Walaupun pemeluknya sangat sedikit dipulau Sabu karena kebanyakan masyarakat Sabu telah menjadi Kristen, namun demikian pengaruh kepercayaan ini cukup dominan dalam pelbagai aspek kehidupan budaya masyarakat Sabu, terutama dalam hal adat perkawinan dan upacara penguburan atau aktifitas adat istiadat.  

3. Kondisi Ekonomi

Struktur Ekonomi Kabupaten Kupang masih bertumpu pada sektor Pertanian (Primer).  Peranan sektor ekonomi terhadap PDRB Kabupaten Kupang empat tahun terakhir (2001 s/d 2004) dapat dilihat pada Tabel berikut ini : 

TABEL PDRB KABUPATEN KUPANG TAHUN 2001 – 2004 

NO

SUMBER PDRB
(HARGA BERLAKU)

TAHUN

RATA-RATA
(%)

2001
(%)

2002
(%)

2003
(%)

2004
(%)

1

Pertanian 

48.86

43.37

49.69

49.95

49.47

2

Pertambangan dan Penggalian

0.61

0.61

0.62

0.63

0.62

3

Industri Pengolahan

1.96

1.96

1.99

1.66

1.98

4

Listrik dan air bersih

0.42

0.41

0.41

0.41

0.41

5

Bangunan/kontruksi

7.19

7.01

6.86

6.73

6.95

6

Perdagangan, Restoran dan Hotel

16.39

15.96

15.72

15.53

15.9

7

Pengangkutan dan komunikasi

5.14

5.00

4.88

4.78

4.95

8

Keuangan, perseroan dan jasa perusahaan

1.61

1.58

1.54

1.52

1.56

9

Jasa-jasa

16.64

16.95

17.17

18.66

17.30

Jumlah

100

100

100

100

99.145

Sumber: BPS Kabupaten Kupang (data telah diolah)

Berdasarkan data di atas terlihat bahwa PDRB Kabupaten Kupang didominasi oleh Sektor Pertanian dengan rata-rata 49,47 persen (2001-2004), Jasa-jasa dengan rata-rata 17,30 persen (2001-2004), dan sektor Perdagangan, Restoran dan hotel 15,9 persen sedangkan sektor lainnya mengalami stagnasi.  Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kupang selama 4 (empat) tahun terakhir bertumbuh dengan kondisi yang fluktuatif.  Pada tahun 2002 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kupang mencapai 4,52 %, pada tahun 2003 sebesar 4,63 % , pada tahun 2004 mencapai 4,84% dan pada tahun 2005 sebesar 4,70%. Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Kupang Tahun 1999 – 2004 dan Pertumbuhan Ekonomi Propinsi NTT.

Sementara itu persoalan kemiskinan masih dihadapi oleh sebagian besar penduduk di Kabupaten Kupang. Dari total 73.377 Rumah Tangga (RT) pada tahun 2003, 69% (50,539) adalah Rumah Tangga Miskin (RTM).  Pada tahun 2005 kondisi ini memburuk yang terlihat dari peningkatan jumlah Rumah Tangga Rentan, Rumah Tangga Miskin dan Rumah Tangga Sangat Miskin sebesar 65.531 KK atau 83,77% dari total jumlah Rumah Tangga sebanyak 78.224 KK/Rumah Tangga.  Peningkatan jumlah RTM ini erat kaitannya dengan penurunan daya beli masyarakat akibat peningkatan harga kebutuhan sehari-hari yang merupakan konsekuensi langsung dari kebijakan pencabutan subsidi bbm dan gagal panen sebagai akibat kekeringan.  Memburuknya daya beli masyarakat ini membawa dampak langsung terhadap kesejateraan masyarakat dan kebijakan publik daerah. 

4. Kondisi Budaya

Kabupaten Kupang sebenarnya jauh lebih heterogen dari Kabupaten lainnya yang ada di pulau Timor.  Suku-suku di Kabupaten yang kemudian mewarnai adat istiadat dan budaya masyarakat di daerah ini adalah : 1) suku Dawan (Dawan, Amarasi dan Amfoang), 2) suku Helong (dari pulau Semau), 3) suku Rote (dari pulau Rote) dan 4) suku Sabu (dari pulau Sabu).  Sebagian kelompok masyarakat ada tinggal di wilayah perkotaan bahkan menyebut diri mereka sebagai suku Timor Kupang.

Sistem kemasyarakatan di Kabupaten Kupang masih tetap dipertahankan sesuai derajat keberadaan seseorang.  Lapisan teratas disebut Amaf (bangsawan), Too (rakyat biasa) dan Atupas (dewan) serta Ata (budak).  Namun sekarang tidak ada lagi lapisan atau istilah Ata.  Masyarakat lebih mengenal Atupas untuk gelar-gelar Kaiser/kesel.  Raja pada umumnya kaya sebagai pemilik tanah sedangkan pekerjaan setiap hari dilakukan oleh Moen Leun Atoin Leun.  Moen kemudian menyerahkan lagi pada Amaf.  Amaf dapat terdiri atas Klen besar yang membawahi suku kecil lainnya.

Dalam bidang Pemerintahan Amaf bertugas mengurusi pertanahan yang disebut Tobe.  Proses penyerahan tanggungjawab dari Kaiser/Atupas kepada para Moen Leun didahului upacara Pilu Mai Soi dengan pemberian tanda benda-benda, muti, plat perak, tongkat.  Setiap tahun raja menerima Mau Safa/Hu Sufa (Upeti) yang diantar oleh para Moen Leun dan Amaf Tobe.  Fungsi Tobe sebagai kaki tangan raja pada lapisan bawah cukup kuat, sehingga kedalam ia berfungsi mengatur pemakaian tanah, mengurus Upeti, memelihara tempat ibadah dan fungsi keluar memberikan ijin kepada orang lain termasuk mengatur bagian Mau sufa kepada raja.  Putri raja yang kawin keluar kerajaan, mempunyai hak mendapat tanah sebagai hadiah yang disebut Susu Lehu.  Demikian juga mereka yang berjasa kepada kerajaan (menang perang) mendapat hadiah tanah yang dinamakan Upat Fuat Bus Ken Nafu.  Strata sosial ini tidak berbeda dengan wilayah Dawan lainnya yakni Timor Tengah Utara dan Timor Tengah Selatan.

Sebagian besar suku Timor di Kabupaten Kupang menganut agama kristen protestan. Meskipun demikian, kepercayaan mereka terhadap wujud tertinggi tetap melekat nampak pada upacara dan ritus yang dipertahankan sampai sekarang.  Masyarakat mengenal wujud tertinggi yang disebut Usi Neno. Usi artinya Tuan atau Raja tertinggi.  Neno artinya hari atau langit.  Usi Neno artinya raja yang mengatasi hari dan langit.  Ia pencipta segala sesuatu termasuk manusia.  Ia menjadi sumber asal dari segala yang ada. Usi Neno adalah sumber (suprema), berbeda dengan Usi Pah atau Usi Fah Najian yang melahirkan segala seusatu dan penguasa bumi.  Sistem religi ini tidak berbeda dengan wilayah Dawan lainnya yakni Timor Tengah Utara dan Timor Tengah Selatan.

Bahasa yang digunakan suku-suku Timor di Kabupaten Kupang adalah bahasa Dawan yang keseluruhan strukturnya sama dengan yang dimiliki masyarakat Timor Tengah Utara dan Timor Tengah Selatan.  Sebagai bahasa pengantar sehari-hari, masyarakat di Kabupaten Kupang menggunakan bahasa Indonesia.