Tags

, , ,


1.    Faktor ras dan etnisitas sangat penting untuk difahami oleh Pekerja Sosial terutama dalam konteks intervernsi sosial terhadap klien karena :

  • Selalu ada kemungkinan bahwa klien yang dihadapi adalah orang/individu, keluarga, kelompok atau komunitas yang berasal dari ras atau etnis yang berbeda dengan Pekerja Sosial sehingga cara pandang terhadap suatu masalah bisa saja berbeda dan nilai-nilai budaya atau norma-norma yang menjadi panutan dalam upaya pemecahan masalah mempunyai ciri khas tersendiri.  Contoh : Pekerja Sosial yang berasal dari etnis Batak tidak boleh mengarahkan atau bahkan memaksa klien yang berasal dari etnis Jawa untuk bersuara keras dalam menyampaikan pendapatnya karena hal tersebut justru dianggap tidak etis dalam kultur etnis Jawa.
  • Faktor ras dan etnis juga seringkali menyebabkan terjadinya diskriminasi atau penindasan oleh ras dan etnis yang mayoritas terhadap yang minoritas.  Hal ini kemudian menyebabkan timbulnya masalah pada individu, keluarga atau kelompok yang berasal dari ras dan etnis minoritas.  Misalnya : diskriminasi yang dialami warga negara Amerika yang berkulit hitam menyebabkan mereka sulit untuk mendapat pendidikan dan pekerjaan yang layak sehingga mereka mengalami masalah kemiskinan, kesehatan yang rendah, hilangnya harga diri dll.
  • Pada saat klien mengalami masalah yang diakibatkan oleh konflik antar etnis dan ras maka Pekerja Sosial terlebih dahulu harus memahami perbedaan nilai-nilai, kultur budaya dan potensi-potensi positif dari masing-masing ras atau etnis tersebut sehingga dapat digali sumber-sumber yang paling memungkinkan dan dapat digunakan secara penuh untuk membantu klien dalam memecahkan masalahnya.  Contoh : Etnis Madura yang menjadi korban konflik (pengungsi) di Kalimantan.  Dalam upaya pemecahan masalahnya Pekerja Sosial tidak bisa mengajukan alternatif solusi agar mereka kembali ke Madura sebab mereka sudah bertahun-tahun tinggal di Kalimantan dan mungkin tidak lagi mempunyai lahan tempat tinggal di Madura.  Dalam upaya pemecahan masalah Pekerja Sosial perlu menggali nilai-nilai dan norma-norma yang mendukung dari masing-masing kultur budaya etnis yang memungkinkan kedua etnis untuk hidup berdampingan dengan damai.
  • Hal tersebut membantu Pekerja Sosial untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk melakukan intervensi dan cara melakukannya (metode dan teknik-teknik yang harus digunakan).
  • Pekerja Sosial dapat memahami masalah yang dihadapi klien dan kebutuhan pemecahahan masalah yang diperlukan apabila Pekerja Sosial memahami secara mendalam mengenai perbedaan-perbedaan respek sosial, budaya, agama, suku, ras, fisik, orientasi seksual dan psikologi klien atau masyarakat sebagaimana yang dialami klien dalam kehidupan perkawinannya atau dalam struktur keluarga.
  • Seluruh perencanaan untuk penanganan masalah keluarga perlu dilakukan dengan assesmen yang rasional terhadap situasi yang paling memungkinkan dan dapat memberikan dukungan penuh dalam upaya pemecahan masalah klien. 

2.    Masalah diskriminasi dalam berbagai bentuk harus menjadi perhatian Pekerja Sosial karena :

a.    Diskriminasi seringkali menyebabkan seseorang, keluarga atau komunitas mengalami penindasan dan berpotensi untuk menjadi konflik.

Contoh :

Diskriminasi terhadap warga negara Amerika keturunan Afrika (Negro).

b.    Diskriminasi juga dapat menyebabkan individu, keluarga atau komunitas kehilangan harga diri, terbatasnya kesempatan untuk mengakses pelayanan sosial dasar (kesehatan, pendidikan, dll), tidak dapat mengaktualisasikan diri atau tidak diberi kesempatan untuk ikut berperan dalam pembangunan atau pengambilan keputusan.

Contoh :

Diskriminasi yang dilakukan oleh “putra daerah” di suatu kabupaten atau provinsi kepada para “pendatang/perantau” yang bekerja di wilayahnya.  Hal ini banyak terjadi di Indonesia, utamanya setelah pelaksanaan otonomi daerah di mana kesempatan para “pendatang” untuk menduduki jabatan strategis dalam pembangunan atau pemerintahan menjadi sangat terbatas bahkan nyaris tidak diperhitungkan.

c.    Diskriminasi dapat menimbulkan stigma dan prasangka negatif yang kemudian menempatkan seseorang atau keluarga atau kelompok pada posisi yang serba salah dan berpotensi terhadap penindasan.

Contoh :

Diskriminasi terhadap Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia.  Sekalipun TKI tersebut memperoleh pekerjaan dengan cara yang legal tetapi prasangka negatif dari pihak yang mempekerjakan seringkali menyebabkan terjadinya ketidakadilan dalam menyelesaikan masalah yang dialami para TKI pada saat mengalami tindak kekerasan. 

3.    Pekerja Sosial perlu memahami limitasi orang dengan kecacatan karena :

a.    Kecacatan seringkali menyebabkan seseorang mengalami keterbatasan atau bahkan tidak mampu untuk merawat dirinya sendiri, berkomunikasi dengan orang lain, belajar, bergerak dan mencapai jarak tertentu, tidak dapat mengendalikan diri, harus dibantu dalam melakukan aktivitas, tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dan mengakibatkan masalah kemiskinan akibat tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang sesuai dengan kecacatannya.

Contoh :

Keterbatasan yang dialami oleh penyandang cacat ganda menyebabkan hidupnya sangat tergantung pada bantuan orang lain.

b.    Dengan memahami limitasi orang dengan kecacatan tersebut maka area yang perlu menjadi fokus Pekerja Sosial dalam assesmen atau memahami perilakunya adalah :

       Komunikasi

Pekerja Sosial perlu mempelajari bahasa tubuh klien atau memahami apa yang tersirat dari apa yang dikemukakan oleh klien, misalnya : bagaimana memahami bahasa tubuh penderita cacat rungu wicara atau mencari tahu apa yang menjadi kebutuhan penderita cacat mental dari ucapan-ucapan yang disampaikannya.

       Sejauh mana penderita cacat dapat merawat dirinya sendiri dan tindakan apa yang perlu dilakukan atau diajarkan untuk mengoptimalkan kemampuan klien dalam merawat dirinya.

       Pekerja Sosial perlu memahami apakah tempat tinggal klien cukup kondusif, terpenuhi sarana dan prasarana aksesibitasnya, apakah keluarga klien mempunyai waktu untuk memberi perhatian dan merawat klien atau justru mengabaikan klien karena kecacatannya.

       Sejauh mana keterampilan sosial yang dimiliki klien untuk menjalin relasi dengan keluarga dan lingkungannya.

       Apakah lingkungan tempat tinggal klien dapat memberikan dukungan atau bantuan yang dibutuhkan klien dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari. 

       Bagaimana klien dapat memanfaatkan potensi yang dimilikinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

       Mengetahui status kesehatan klien dan keamanannya dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

       Perhatian dunia pendidikan terhadap penyandang cacat.  Misalnya sekolah-sekolah khusus bagi penyandang cacat atau sekolah-sekolah formal untuk anak-anak normal yang memberi kesempatan kepada penderita cacat mengakses pendidikan.

       Bagaimana penderita cacat menggunakan waktu luangnya atau bahkan mungkin waktu luangnya lebih banyak daripada waktu yang digunakan untuk melakukan aktivitas.

       Apakah penderita cacat mampu bekerja, mempunyai keterampilan untuk jenis pekerjaan tertentu, mendapat kesempatan untuk bekerja di sektor formal atau informal atau mungkin mampu bekerja secara swadaya. 

4.    Pekerja Sosial tidak boleh homophobia karena hal tersebut akan menimbulkan prasangka negatif, penolakan atau menganggap klien yang mengalami permasalahan dengan orientasi seksual sebagai mahluk yang aneh, menakutkan dan menjijikkan sehingga proses pelayanan tidak dapat dilakukan atau bahkan menganggap klien perlu dihukum. 

5.    Isu-isu dalam konteks klien yang mempunyai masalah orientasi seksual yang menjadi perhatian Pekerja Sosial :

  1. Stigma dan bahkan perlakuan kejam yang terjadi pada remaja, kebutuhan untuk diterima (dengan kondisi permasalahannya) oleh keluarga, perlunya dukungan pihak sekolah (teman-teman dan guru), hambatan dan ketidakberanian untuk menyatakan diri sebagai gay atau lesbian dan masih sangat terbatasnya gay atau lesbian yang sudah berhasil atau dapat dijadikan sebagai model untuk memahami bagaimana seorang gay/lesbian melaksanakan perannya dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Gay/lesbian pada masa dewasa mengalami masalah : dikucilkan dan sulit untuk mendapatkan pekerjaan.  Hal ini kemudian berpengaruh terhadap ekonomi atau pendapatannya sehingga mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya.
  3. Gay/lesbian pada masa usia lanjut mengalami diskriminasi dalam hal asuransi (jaminan sosial), layanan di lembaga kesehatan (rumah sakit) atau layanan kesehatan di rumah.
  4. Saat yang paling sulit untuk gay dan lesbian adalah bagaimana, kapan dan kemungkinan reaksi negatif yang akan ditunjukkan oleh keluarga dan lingkungan pada saat ia menyatakan diri sebagai seorang homoseksualitas.
  5. Homoseksualitas memiliki kecenderungan tinggi untuk tertular atau mengidap HIV/AIDS.
  6. Gay/Lesbian usia remaja lebih rentan terhadap tindak kekerasan dan perlakuan salah dan bahkan sering diekspoitasi secara seksual.
  7. Gay/lesbian yang berasal dari etnik atau ras minoritas menghadapi permasalahan ganda karena selain masalahnya sebagai gay/lesbian, mereka juga mengalami diskriminasi.
  8. Gay/lesbian yang juga menderita cacat.
  9. Permasalahan yang timbul akibat perkawinan gay/lesbian (penolakan masyarakat, belum ada tataran hukum yang melegalkan) dan gay/lesbian yang menjadi orang tua.
  10. Kebijakan publik atau kebijakan pemerintah yang diskriminatif terhadap gay/lesbian atau bahkan memberikan sanksi kepada gay/lesbian. 

Sumber Rujukan : 

Cournoyer, Barry; The Social Work Skill Workbook (Fourth Edition); Thomson Brooks/Cole; USA; 2005 

DuBois, Brenda anda Miley, Karla Krogsrud; Social Work : An Empowering Profession (Fifth Edition); Pearson Education Inc; USA; 2005 

Queralt, Magaly; The Social Environment and Human Behavior : A Diversity Perspective; Allyn and Bacon : A Simon and Schuster Company; USA; 1996 

Zastrow, Charles and Ashman, Karen K. Kirst; Understanding Human Behavior and The Social Environment (Sixth Edition); Thomson Brooks/Cole; USA; 2004