Tags

, , ,


A.        Pendahuluan 

Globalisasi tidak saja memberikan dampak positif tetapi juga dampak negatif bagi kehidupan dan penghidupan manusia.  Dampak positif yang kita rasakan adalah berkembangnya sains dan teknologi yang pesat dan maju namun sekaligus mengakibatkan berkembang dan meningkatnya kebutuhan-kebutuhan manusia.  Salah satu konsekwensi dari pengaruh globalisasi tersebut adalah meningkatnya kebutuhan pendidikan agar manusia dapat menguasai dan mengendalikan teknologi.  Pendidikan merupakan salah satu modal dasar bagi manusia untuk dapat memenuhi kebutuhan lainnya.  Oleh karena itu pendidikan diberikan kepada manusia sejak usia anak (6 atau 7 tahun) dan tidak pernah dibatasi kapan seseorang harus berhenti dalam menempuh pendidikan.

Pendidikan semakin intensif diberikan kepada manusia pada usia remaja.  Hal ini dilakukan dengan asumsi bahwa remaja adalah generasi penerus yang diberi tanggung jawab untuk melanjutkan pembangunan bangsa dan negara.  Menyiapkan remaja sebagai generasi yang tangguh dan handal dalam melanjutkan pembangunan tidaklah mudah.  Berbagai hambatan baik yang berasal dari faktor internal (kemiskinan atau kelemahan intelektual remaja itu sendiri) maupun eksternal (terbatasnya akses pendidikan yang sesuai atau rendahnya kualitas pendidikan yang diselenggarakan) menjadi tantangan dalam mewujudkan generasi muda yang sehat, tangguh dan cerdas.  Hal ini juga berkaitan erat dengan keberfungsian keluarga.  Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan tersebut keluarga mempunyai keterbatasan sehingga memerlukan pelayanan dari lembaga formal yakni sekolah. 

Sekolah sebagai HSO (Human Service Organization) muncul sebagai salah satu jawaban akibat permintaan pasar dan keluarga untuk menyediakan pelayanan pendidikan.  Human Services Organization (HSO) sebagaimana organisasi pada umumnya mempunyai fungsi manajemen dalam mengoperasionalisasikan kegiatan-kegiatannya. Perbedaan HSO dengan organisasi publik dan organisasi bisnis yakni memiliki karakteristik khusus sebagai organisasi pelayanan kemanusiaan yang bahan mentah dan produknya adalah manusia.  Hal ini sesuai dengan pengertian HSO menurut Frances Donovan A.C. Jackson, 1991 bahwa HSO diartikan sebagai suatu organisasi tempat kerja profesional pelayanan manusia atau organisasi yang produk utamanya adalah pelayanan yang dirancang untuk mengoptimalkan kesejahteraan klien (keberfungsian sosial).

 

B.         Permasalahan yang terjadi pada Dunia Pendidikan untuk Remaja 

Banyak lembaga pendidikan formal (SMU) di Indonesia yang dinyatakan berkualitas.atau memiliki kualifikasi akreditasi “A” (amat baik).  Indikator kualifikasi lembaga pendidikan formal berkualitas ini ditandai dengan banyaknya kelulusan murid dan banyaknya murid yang melanjutkan jenjang pendidikan formal di lembaga pendidikan tinggi (PT) terkemuka atau siap dalam menghadapi dunia kerja.  Di satu sisi indikator kualifikasi ini tidak bisa disanggah kebenarannya namun dengan fenomena yang terjadi akhir-akhir ini maka banyak orang tua dan bahkan masyarakat mempertanyakan kembali akreditasi tersebut.  Permasalahan yang berkaitan dengan remaja dalam dunia pendidikannya yang makin marak dewasa ini adalah meningkatnya frekuensi perkelahian (tawuran) antar sekolah, tindak kekerasan di antara sesama siswa dalam satu sekolah, penyalahgunaan narkotika, pemerasan, dan lain-lain.

Banyak lembaga pendidikan formal (SMU) yang orientasi utamanya adalah mencetak sumber daya manusia yang mampu bersaing dalam bidang sains dan teknologi.  Orientasi pendidikan ini dilandasi oleh adanya tuntutan globaliasi yang mengharapkan setiap anak didik mampu menguasai ilmu dan teknologi yang ditransfer melalui jalur formal.  Hal ini menuntut setiap lembaga pendidikan untuk bersaing melalui varian pola/sistem pendidikan yang dilaksanakan.  Kondisi menuntut pula adanya tenaga-tenaga pengajar yang professional di bidang akademik masing masing.  Pola ini secara linear memberi harapan akan lahirnya guru-guru professional yang menguasai bidangnya, yang memungkinkan lahirnya murid-murid berkualitas dalam ilmu dan teknologi yang ditransfer-nya.  Hasil yang dapat dilihat akibat kemajuan dunia pendidikan kita adalah kualitas murid-murid dalam dasa warsa terakhir menunjukkan kualitas penguasaan sains dan teknoligi cukup membanggakan.  Namun di sisi lain, sistem pendidikan nasional kita cenderung melahirkan generasi yang menghambakan diri terhadap ilmu dan pengetahuan, tanpa diikuti oleh ‘kematangan’ jiwa dan pribadi sebagai seseorang yang bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri, keluarga, masyarakat dan negara.

Kecenderungan terjadinya perilaku negatif pada remaja di sekolah dan berbagai permasalahan siswa sekolah-sekolah formal antara lain disebabkan oleh :

1.    Sistem pendidikan yang terlalu berorientasi pada kemajuan sains dan teknologi

Sistem pendidikan yang berorientasi pada kemajuan sain dan teknologi memberikan pembekalan mutlak pada murid untuk ‘mampu’ menguasai ilmu dan teknologi yang ditransper oleh pengajar secara baik dan utuh. Setiap murid diharapkan memiliki/menguasai ilmu dan pengetahuan yang diterimanya sebagai dasar bagi proses pendidikan ke jenjang lebih tinggi serta memberi harapan setiap murid mampu mengantisipasi kemajuan sain dan teknologi yang muncul.  Sistem ini seringkali mengabaikan gejala-gejala ketidakmampuan atau kesiapan siswa dalam menerima proses transfer sains dan teknologi tersebut.  Hal ini menimbulkan banyak siswa yang merasa tidak mampu atau tersisih yang kemudian dimanifestasikan dalam bentuk perilaku ‘menyimpang’ seperti bolos sekolah, menggabungkan diri dalam geng sekolah sebagai upaya mengamankan diri, perilaku anarki, ketidaksopanan, egosentris dan sebagainya.

2.    Sistem pendidikan yang berorientasi pada pengembangan spesialisasi pengajar (guru)

Sistem ini secara nyata memotivasi para pengajar (guru) untuk berkompetisi dalam mengejar akreditas. Para pengajar termotivasi melakukan pendalaman-pendalaman materi yang harus dikuasai secara baik.  Kontribusi terhadap anak didik secara langsung ataupun tidak memberikan kemudahan dalam hal proses transfer penguasaan ilmu.  Ekses yang terjadi, ketika seorang guru mempunyai spesialisasi yang sangat baik dalam hal materi ilmu pengetahuan tertentu maka ia menjadi kurang perhatian atau penguasaan terhadap ilmu pengetahuan lainnya.  Hal ini menimbulkan kekakuan dalam proses belajar mengajar sehingga terjadinya kejenuhan murid dalam mengadopsi ilmu yang diberikan gurunya.

3.    Sistem pendidikan yang kurang diimbangi dengan penanaman nilai-nilai sosial budaya

Kurangnya penanaman nilai-nilai sosial budaya menyebabkan siswa sulit untuk menyesuaikan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari dan sulit untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang diperolehnya dengan kondisi umum di Indonesia.  Hal ini bertendensi pada pola fikir guru dan anak didik yang terlalu diwarnai oleh falsafah negara asal ilmu pengetahuan tersebut.  Kondisi ini secara tidak disadari telah mengikis kekuatan dan ketahanan sosial remaja.  Perilaku yang muncul sebagai akibat lemahnya nilai-nilai sosial budaya pada remaja, antara lain : hedonisme, mengagungkan hak-hak asasi pribadi, ‘demokratisasi’ yang salah kaprah dan sebagainya.

4.    Sistem pendidikan yang ‘mengenyampingkan’ aspek sosial psikologis guru dan murid

Masa remaja merupakan masa perkembangan yang memiliki kompleksitas yang tinggi.  Pada tahap ini manusia dihadapkan pada berbagai kondisi harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan.  Masa remaja juga merupakan masa pencarian identitas diri.  Kondisi inipun sangat rentan terhadap stimulus-stimulus dari luar sehingga memerlukan kesiapan lingkungan untuk memberikan stimulus yang positif untuk membentuk kematangan kepribadian seseorang.  Kondisi objektif mengindikasikan bahwa banyak proses belajar mengajar di sekolah formal kurang memperhatikan kerentanan tahap perkembangan remaja sehingga banyak siswa yang mencari “stimulus negatif” tanpa sepengetahuan guru atau kepala sekolah yang kemudian menimbulkan berbagai permasalahan baru.

Dari uraian yang telah dikemukakan, dapat dirasakan bahwa penyelenggaraan pendidikan menghadapi berbagai tantangan dan kendala yang cukup berat.  Hal ini tentu akan berpengaruh kualitas SDM generasi muda kita, yang selain diharapkan menguasai ilmu dan teknologi, juga memiliki keunggulan kepribadian yang utuh.

 

C.        Sekolah Menengah Umum Sebagai HSO 

Lembaga pendidikan formal bagi remaja (SMU) dikategorikan sebagai organisasi pelayanan kemanusiaan (HSO) karena memiliki karakteristik atau ciri-ciri sebagaimana HSO, yakni :

1.    Sasarannya adalah perilaku/karakter manusia (bahan mentah dan produknya manusia), yakni remaja sebagai anak didik.

2.    Ambigu (kurang jelas), kapan terjadinya perubahan perilaku tidak dapat diduga/sulit diprediksi karena sasarannya manusia, yakni perilaku remaja

3.    Teknologi tidak terbatas, tidak terlalu menentukan, lebih pada professional berfokus pada hubungan kemanusiaan, yakni penggunaan teknik dan metode pembelajaran tidak bersifat kaku.

4.    Relasi sosial merupakan aktifitas inti, kegiatan-kegiatan disekolah merupakan proses interaksi (relasi) antara siswa, guru dan pemberi pelayanan lainnya.

5.    Tergantung pada staf professional, profesionalisme pelayanan bergantung pada tenaga professional, artinya mutu dan kinerja guru memegang sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar disekolah sehingga dapat menjamin terbentuknya kualitas sumber daya siswa.

6.    Keberhasilan sulit diukur, artinya kualitas sumber daya siswa sulit diukur karena tidak hanya intelektual siswa yang diperlukan tetapi juga melekatnya kepribadian siswa yang luhur sebagai tujuan inti pembelajaran disekolah.

Dalam menjalankan organisasinya, sekolah berupaya memberikan pelayanan dan menyelenggarakan pendidikan secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan serta sangat erat kaitannya dengan fungsi-fungsi manajemen yang dilaksanakan oleh pihak sekolah.

Menurut perspektif manajemen, setiap organisasi melaksanakan 2 (dua) hal yakni  :

1.    Management Functions atau Fungsi-fungsi manajemen yang berkaitan kegiatan planning, organizing, staffing, directing, coordinating, reporting, budgeting dan controlling.

2.    Management Resources atau manajemen sumber daya yang meliputi man (manusia), money (uang/dana), machine (mesin/peralatan), methods (metode/tehnik-tehnik), material dan minutes (waktu).

Efektifitas berkaitan dengan bagaimana sekolah memanfaatkan sumber daya yang ada dan dimilikinya. Sedangkan efisiensi berkaitan dengan penyusunan rencana dan tehnik-tehnik yang digunakan sekolah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

 

D.        Pengembangan SDM di Sekolah Menengah Umum (SMU) 

Pengembangan SDM di SMU adalah upaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia secara cermat dan tepat (melalui analisis mendalam) sesuai dengan kebutuhan dalam rangka mencapai tujuan.  Pengembangan SDM merupakan hal yang sangat penting dalam keberlangsungan HSO.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan SDM di lembaga pendidikan terdiri atas : mengapa SDM perlu ditingkatkan (Why), siapa saja yang perlu ditingkatkan SDMnya (Who), apa yang perlu dilakukan untuk meningkatkan SDM tersebut (What), di mana peningkatan SDM dilakukan (Where), kapan saat yang tepat untuk melakukan upaya peningkatan SDM (When) dan bagaimana peningkatan SDM tersebut dilakukan (How).

Berikut ini akan diuraikan analisis terhadap mengapa, kepada siapa, di mana, kapan, apa yang akan diberikan dan bagaimana SDM di Sekolah Menengah Umum dilakukan.

1.  Mengapa Peningkatan SDM perlu dilakukan (Why)

Dinamika yang berkembang di masyarakat maupun ilmu pengetahuan, menuntut adanya penyesuaian antara kebutuhan atau tuntutan terhadap sumber daya manusia dan tersedianya sumber daya yang dibutuhkan sesuai tempat, waktu, jumlah dan mutu yang memadai.  Oleh karena itu peningkatan SDM dilakukan untuk memenuhi tuntutan tersebut.  Di samping itu, peningkatan SDM juga dilakukan dengan maksud agar para pemberi pelayanan dalam lembaga dapat melakukan tugasnya secara optimal, utamanya yang tugas pelayanan bagi masyarakat.

2.  Siapa yang menjadi sasaran pengembangan SDM (Who)

Sasaran pengembangan SDM di Sekolah Menengah Umum adalah:

a.  Pemberi pelayanan langsung yakni guru/pendidik, baik guru bidang studi, guru pembimbing maupun wali kelas.

b.   Pemberi pelayanan tidak langsung yakni pejabat structural di sekolah, dtaf administrasi dan staf pendukung lainnya.

Selain sasaran pengembangan, “siapa” (who) dalam upaya pengembangan SDM ini juga berkaitan dengan siapa yang akan menyelenggarakan kegiatan tersebut.  Dalam ruang lingkup lembaga pendidikan, guru-guru yang ada dapat berperan ganda, sebagai sasaran pengembangan SDM, sebagai penyelenggara sekaligus sebagai nara sumber atau pelatih.  Hal ini dimungkinkan karena guru-guru di Sekolah Menengah Umum mempunyai keahlian dalam bidang ilmu yang berbeda sehingga dapat saling melengkapi satu sama lain.

3.   Di mana upaya peningkatan SDM dilakukan (Where)

Peningkatan SDM bagi staf (guru, staf administrasi atau tenaga pendukung lainnya) di Sekolah Menengah Umum dapat dilakukan di dalam maupun di luar organisasi (lembaga).

a.    Peningkatan SDM di dalam organisasi

Kegiatan-kegiatan di dalam organisasi (di lingkup sekolah) yang dapat meningkatkan SDM staf antara lain :

  Menyediakan perpustakaan dengan literatur yang berkualitas dan berkaitan dengan materi yang menjadi bahan ajar bagi guru atau berkaitan dengan tugas-tugas administrasi.

  Membentuk dan memfasilitasi kelompok diskusi untuk guru-guru atau tenaga administrasi.

  Mengundang nara sumber, istruktur atau tenaga ahli untuk memberikan diklat singkat bagi staf

  Dsb.

b.    Peningkatan SDM di luar organisasi

Peningkatan SDM yang perlu dilakukan di luar organisasi adalah :

  Memberi kesempatan dan sekaligus memfasilitasi para guru dan staf lainnya untuk menempuh pendidikan formal di jenjang yang lebih tinggi dari yang dimiliki sebelumnya.

  Menugaskan staf (termasuk guru) untuk mengikuti berbagai kegiatan seminar, diklat atau kursus singkat.

  Menugaskan staf untuk melakukan studi banding ke lembaga-lembaga pendidikan formal sejenis.

4.  Apa yang dilakukan dan apa yang akan dicapai dalam pengembangan SDM (What)

Pengembangan SDM yang dilakukan di Sekolah Menengah Umum bertujuan agar staf (guru dan tenaga administrasi) dapat mencapai kualitas optimal yang diperlukan dalam proses pemberian pelayanan.  Target peningkatan yang ingin dicapai yaitu :

a.    Peningkatan kompentensi meliputi berbagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan (konsep dan teori) dan keterampilan (skill) para pemberi pelayanan untuk menjawab peluang dan tantangan, meliputi :

1)  Pemberian pelatihan khusus pada aspek administrasi pelayanan prima.

2)  Peningkatan jumlah jam kegiatan guru dan siswa/anak didik untuk praktek lapangan, magang, mengikuti berbagai perlombaan/penelitian atau pertukaran sumber/skill dan sebagainya.

3)  Pemberian perhatian khusus pada peningkatan pengetahuan dan advokasi, analisis kebijakan sosial dan pengembangan jaringan kemitraan.

4)  Pemberian perhatian khusus pada penguasaan bahasa inggris baik guru maupun staf lainnya, public relation dan media work untuk membangun komunikasi yang lebih luas.

b.    Peningkatan integritas meliputi berbagai upaya yang ditujukan untuk meningkatkan motivasi, sikap-perilaku dan moral para pemberi pelayanan. Hal ini akan memberikan warna dan kekhasan dalam pemberian pelayanan disekolah. Seringkali nilai-nilai yang melekat pada guru menjadi contoh/model teladan/panutan yang akan ditiru oleh siswa/anak didik. Nilai-nilai yang berlaku disekolah akan dipahami dan melekat pada setiap orang yang menjadi bagian dari di sekolah tersebut.

5. Kapan Upaya Peningkatan SDM perlu dilakukan (When)

Peningkatan SDM di Sekolah Menengah Umum dapat dilakukan dengan frekuensi yang teratur (rutin) maupun insidental.  Jenis kegiatan yang sesuai dengan penentuan waktu tersebut adalah :

a.    Kegiatan yang bersifat rutin

  Case Conference

  Melaksanakan kegiatan diskusi kelompok pengembangan yang terjadwal (misalnya 3 bulan sekali) dengan menghadirkan tenaga ahli sebagai nara sumber.

  Memberi kesempatan kepada staf untuk Ijin Belajar dalam jangka waktu tertentu.

  Melakukan pelatihan yang terencana dan terjadwal (misalnya setiap awal atau akhir semester)

b.   Kegiatan yang bersifat insidental

  Menugaskan staf untuk mengikuti seminar, simposium atau diklat (sesuai undangan dari lembaga yang menyelenggarakannya).

  Pembinaan dari lembaga yang berkompeten (misalnya kegiatan penyuluhan dari Dinas Diknas atau Perguruan Tinggi)

  Studi banding

  dsb

6.   Bagaimana kegiatan peningkatan SDM dilakukan (How)

Kegiatan-kegiatan pengembangan SDM pemberi pelayanan langsung maupun pemberi pelayanan tidak langsung (staf administrasi dan staf pendukung) di sekolah yang dilaksanakan akan sangat berkaitan dengan di mana (where) kegiatan itu dilakukan, yakni : 

a.    Eksternal (di luar lembaga)

1)    Melalui pendidikan formal atau memberikan kesempatan kepada guru untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

2)    Mengikutsertakan guru pada pendidikan dan pelatihan teknis, yang diselenggrakan oleh instansi/lembaga lain baik yang berhubungan dengan keterampilan/teknik belajar mengajar, pendalaman materi bidang studi/mata pelajaran atau pengetahuan/keterampilan lainnya (misalnya psikologi perkembangan remaja, sosiologi, antropologi dan hukum) yang menunjang penyelenggaraan pelayanan prima.

3)    Mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah/penelitian bekerja sama dengan lembaga lain.

4)    Studi banding kelembaga pendidikan lainnya atau ketempat lain yang sesuai kebutuhan.

5)    Memanfaatkan fasilitas perpustakaan, baik yang ada didalam sekolah maupun perpustakaan yang berada diluar sekolah.

6)    Program pertukaran sumber dengan organisasi lain.

7)    Mengikuti berbagai seminar/symposium yang dilakukan oleh lembaga lain.

b.    Internal (di dalam lembaga)

1)    Membentuk dan melakukan focus group discussion di antara guru.

2)    Pembinaan dari pejabat struktural

3)    Melakukan case manajemen, untuk melatih kepekaan guru dalam menganalisis permasalahan dan menyusun langkah-langkah yang tepat dalam mengatasi permasalahan yang terjadi pada anak didiknya.

4)    Mendatangkan pakar/ahli untuk memberikan bimbingan dan latihan keterampilan khusus.

5)    Melakukan kegiatan-kegiatan ilmiah/penelitian mandiri.

6)    Menulis karya ilmiah atau makalah-makalah yang berkaitan dengan pendidikan.