Tags

,


A.   PENDAHULUAN

Melonjaknya harga minyak di pasaran dunia dan mulai menipisnya sumber daya alam minyak di Indonesia menyebabkan harga bahan bakar minyak di Indonesia meningkat dengan tajam.  Kenaikan harga bahan bakar tersebut berpengaruh terhadap berbagai sektor perekonomian lainnya seperti transportasi dan naiknya harga-harga bahan makanan.  Salah satu sektor yang juga tidak luput dari imbas kenaikan harga bahan bakar ini adalah Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Tingginya biaya produksi, terbatasnya sumber daya alam non minyak (misalnya bendungan atau tenaga uap) yang dapat menghasilkan energi listrik menyebabkan negara kembali menaikkan tarif listrik untuk kesekian kalinya dalam 5 tahun terakhir.  Langkah lain yang ditempuh Pemerintah untuk penghematan dan pembelajaran kepada masyarakat untuk menghemat listrik adalah dengan kebijakan denda bagi pelanggan yang menggunakan listrik secara boros dan keringanan biaya (discount) bagi pelanggan yang dapat menghemat pemakaian listriknya dalam tiap bulan pemakaian.

Banyak pihak meragukan keberhasilan kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam upaya penghematan listrik.  Bagi masyarakat miskin yang sangat memprihatinkan adalah naiknya tarif listrik.  Dalam era pembangunan saat ini, sebagian besar masyarakat Indonesia sudah sangat tergantung pada listrik untuk mendukung kegiatan kehidupannya sehari-hari terutama untuk penerangan (lampu) pada malam hari dan peralatan elektronik untuk akses informasi seperti televisi dan radio.  Apakah dengan naiknya harga listrik akan menyebabkan sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama masyarakat miskin harus kembali ke peradaban jaman dulu ? menggunakan petromaks, pelita, lilin atau lampu ‘teplok’ untuk penerangan di malam hari ? atau harus menggunakan ‘obor bambu’ karena masyarakat miskin juga tidak mampu membeli minyak tanah untuk petromaks atau pelitanya.  Kondisi yang lebih memprihatinkan lagi, minyak tanah untuk penerangan itu pun sudah sangat sulit didapatkan.  Lalu, apakah kita akan hidup dalam kegelapan di sepanjang malam-malam kemerdekaan kita ?

(Sumber bacaan dan informasi : Majalah Tempo, Edisi 3 – 9 Maret 2008 dan Berita-berita yang ditayangkan oleh beberapa Media Elektronik)

 

B.   ANALISIS MASALAH 

  1. Masalah ditinjau dari fungsi-fungsinya

Berdasarkan fungsi-fungsi masyarakat atau komunitas maka masalah yang terjadi sebagai akibat kenaikan listrik adalah sebagai berikut :

a.    Produksi, Distribusi dan Konsumsi

Tidak seluruh kegiatan manusia dapat dilakukan pada siang hari.  Sebagian besar anak-anak belajar di rumahnya antara pukul 7 – 9 malam.  Ketiadaan listrik untuk penetangan akan menghambat proses belajar bagi banyak anak, terutama mereka yang miskin dan tidak mampu membeli generator listrik.  Kebutuhan listrik juga sangat berpengaruh terhadap kegiatan orang dewasa.  Mereka yang mempunyai usaha ‘home industri’ atau usaha ekonomis produktif lainnya hampir seluruhnya membutuhkan listrik untuk menjalankan usahanya, seperti pertukangan kayu, konveksi dan berbagai jenis usaha lainnya.

b.    Sosialisasi

Media Elektronik bukanlah satu-satunya alat untuk melakukan sosialisasi yang paling baik di negeri ini tetapi kehadiran elektronik secara nyata telah memberikan kontribusi dalam upaya mencerdaskan bangsa.  Berbagai informasi dari berbagai daerah dan informasi mengenai kebijakan-kebijakan pemerintah dapat diperoleh melalui media elektronik.  Ketiadaan listrik akan membuat masyarakat menjadi seperti terisolir karena semua media elektronik membutuhkan listrik untuk operasinya.

c.    Kontrol Sosial

Salah satu kebutuhan yang penting bagi manusia dan masyarakat dalam kehidupannya adalah rasa aman.  Kecenderungan rentannya keamanan bagi manusia terutama adalah pada malam hari.  Berbagai kemungkinan tindak kejahatan cenderung meningkat pada malam hari.  Dapat dibayangkan betapa masyarakat akan selalu dihantui rasa was-was apabila tidak ada penerangan yang memadai pada malam hari.  Bahkan di desa-desa terpencil sekalipun, di mana listrik sudah menjadi salah satu kebutuhan, hal ini akan menimbulkan situasi dan kondisi psikologis yang tidak nyaman bagi mereka. 

d.    Partisipasi Sosial

Sebagian besar masyarakat mencari nafkah pada siang hari.  Berbagai kegiatan yang berkenaan dengan interaksi sosial hanya dapat dilakukan pada hari libur atau pada malam hari, misalnya pertemuan di tingkat RT, arisan, pengajian dan lain sebagainya.  Apabila penerangan listrik tidak ada maka hampir dapat dipastikan frekuensi dan intensitas kegiatan-kegiatan masyarakat di lingkungannya akan menurun secara tajam karena mereka cenderung untuk berada di rumahnya masing-masing yang dirasakan sebagai tempat paling aman.

e.    Dukungan Sosial

Mahalnya tarif listrik atau tidak tersedianya listrik mungkin tidak akan berpengaruh langsung terhadap fungsi masyarakat dalam pemberian dukungan sosial.  Apabila listrik telah menjadi komoditi yang mahal dan mempengaruhi fungsi-fungsi lainnya maka secara tidak langsung dampaknya akan mempengaruhi pula fungsi dukungan sosial. 

  1. Sebab dan Akibat Masalah

a.    Sebab-sebab

Penyebab kenaikan harga listrik yang semakin tajam dan tidak terjangkau oleh masyarakat miskin adalah :

       Tingginya harga minyak di pasaran dunia.

       Semakin menipisnya sumber daya alam minyak dan gas di Indonesia.

       Banyaknya pencurian pemakaian listrik oleh pelanggan, baik pelanggan perorangan (masyarakat) maupun pelanggaran dunia usaha.

       Tingginya pemakaian listrik di sektor-sektor industri dan dunia usaha lainnya yang menggunakan bahan bakar minyak yang disubsidi oleh Pemerintah.

       Tingginya biaya operasional PLN.

       Kinerja dan manajemen PLN yang relatif buruk sehingga selalu mengalami kerugian dalam usaha dan operasionalnya.

       Rendahnya kesadaran masyarakat untuk menghemat energi demi masa depan.

       Kebijakan Pemerintah yang kurang berpihak pada masyarat miskin dan selalu mengutamakan sektor perekonomian.

b.    Akibat masalah

Beberapa akibat yang ditimbulkan dengan dinaikkannya tarif listrik dapat berdampak langsung kepada masyarakat miskin dan dapat pula merupakan dampak tidak langsung, yaitu:

       Masyarakat miskin tidak mampu membayar tarif listrik sehingga harus kembali menggunakan alat penerangan tradisional.

       Pemerintah akan menyegel atau mencabut intalasi listrik dari rumah-rumah masyarakat miskin yang tidak mampu membayar tarif listrik.

       Tindak kriminal pencurian listrik akan meningkat.

       Masyarakat yang mempunyai usaha kecil yang menggunakan listrik di rumahnya tidak mampu lagi berproduksi.  Hal ini akan menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaan dan penghasilan.

       Hasil atau produk sektor Industri, (besar, sedang maupun kecil) akan mengalami kenaikan harga karena biaya produksi yang tinggi sebagai akibat kenaikan tarif listrik.

       Tingginya harga barang-barang hasil produksi menyebabkan daya beli masyarakat melemah atau bahkan tidak mampu lagi membeli.

       Terhambatnya aktivitas masyarakat sehari-hari, terutama di malam hari.

       Terisolirnya masyarakat terhadap akses informasi dan dunia ilmu pengetahuan.

       Meningkatnya kemiskinan. 

  1. Model yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan adalah Perencanaan Sosial (Social Planning) dan Aksi Sosial (Social Action).  Alasan penggunaan model ini adalah :

a.    Listrik merupakan kebutuhan atau hajat hidup orang banyak, terutama masyarakat di perkotaan dan dunia usaha.

b.    Kenaikan tarif listrik dan kenaikan harga-harga barang yang disebabkan oleh meningkatnya biaya produksi akan menjadi beban yang sangat berat bagi masyarakat miskin.

c.    Hanya sedikit kelompok masyarakat yang dapat memproduksi energi listrik secara swadaya.  Hal ini sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya alam (misalnya air terjun, daerah-daerah yang sinar mataharinya stabil sepanjang tahun) dan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri (misalnya pengetahuan untuk merakit alat solar system bertenaga surya).

d.    Mudah untuk memperoleh dukungan masyarakat di daerah perkotaan yang letaknya dekat dengan pemangku kepentingan atau pusat pemerintahan.

Asumsi yang mendasari penggunaan model ini adalah :

a.    Perencanaan Sosial

       Tujuan pemecahan masalah memperhatikan pentingnya kebutuhan listrik bagi masyarakat.

       Asumsi mengenai struktur masyarakat dan kondisi masalah listrik berdampak langsung pada kesehatan fisik, mental, perumahan dan rekreasional bagi masyarakat.

       Pengumpulan data yang terkait dengan masalah dalam rangkaian strategi perubahan dasar dapat dilakukan.

       Metode perubahan dengan memanipulasi organisasi formal (PLN) dapat dimungkinkan.

       Sistem klien adalah keseluruhan komunitas geografis yang ada di Indonesia yang menggunakan listrik.

       Konsepsi populasi klien adalah semua konsumen yang menggunakan listrik.

       Konsepsi peran klien adalah sebagai konsumen atau penerima pelayanan.

b.    Aksi Sosial

       Pergeseran sumber daya dan relasi kekuasaan menjadi kategori tujuan tindakan.

       Berkaitan dengan struktur dan kondisi masalah : Masyarakat miskin sangat dirugikan dan akan menyebabkan kesenjangan sosial semakin dalam.

       Pemerintah dan PLN menjadi ‘musuh’ masyarakat yang harus dihadapi dengan katalisasi isu dan pengorganisasian masyarakat.

       Peran praktisi (aktivis, advokat, negosiator dan partisan) sangat dimungkinkan bahkan akan sangat mendukung dalam upaya perubahan sosial yang akan dilakukan.

       Upaya ini akan didukung oleh organisasi massa dan dapat dilakukan proses politik.

       Dalam upaya perubahan sosial ini posisi Pemerintah dan PLN harus ditekan atau dilawan.

       Masyarakat miskin adalah korban yang paling berat menanggung beban kenaikan tarif listrik.  Diprediksi sebagian besar masyarakat yang tidak miskin juga akan mengalami penurunan daya beli sebagai akibat kenaikan tarif listrik. 

  1. Partisipan yang akan dilibatkan dalam pemecahan masalah adalah :

a.    Sistem Inisiator                         : Media Massa

b.    Sistem Agen Perubahan         : DPRD

c.    Sistem Klien                              : Perwakilan Masyarakat

d.    Sistem Pendukung                   : Dunia Usaha

e.    Sistem Implementasi                : Ahli-ahli ekonomi dan ahli-ahli energi

f.     Sistem Sasaran                         : Pemerintah (Departemen Keuangan,

                                                           Departemen Pertambangan dan Energi,

                                                           Kantor Kementerian Ekonomi), PLN dan Pertamina.

g.    Sistem Kegiatan                       : Aktivis, Perwakilan Organisasi Masyarakat,

                                                           Perwakilan Organisasi Politik 

  1. Strategi dan Taktik yang digunakan

Strategi yang akan digunakan adalah strategi Campaign, yaitu apabila sistem sasaran mau berkomunikasi dengan sistem kegiatan tetapi hanya sedikit kesepakatan yang diperoleh atau bila sistem sasaran bersedia mendukung perubahan tetapi tidak mengalokasikan sumber-sumber untuk mengatasinya.  Taktik yang akan digunakan adalah Persuasi, Lobbyng dan Mass Media Appeal.

Apabila strategi dan taktik tersebut tidak berhasil maka digunakan strategi Contest yaitu apabila sistem sasaran menentang perubahan atau menentang pengalokasian sumber-sumber serta tidak bersedia melakukan negosiasi.  Taktik yang digunakan adalah Large group action dan demonstrasi. 

  1. Keterampilan yang dibutuhkan untuk mendukung upaya pemecahan masalah adalah :

a.    Berkelompok dan mengadakan pertemuan

b.    Menulis

c.    Memotivasi, memberi semangat dan aktivitas

d.    Negosiasi dan mediasi

e.    Representasi dan Advokasi

f.     Bekerja dengan Media

g.    Manajemen dan organisasi

h.    Riset atau Penelitian

Peran yang perlu dimainkan oleh Pekerja sosial adalah :

1.    Peran Fasilitatif, yaitu :

       Animasi Sosial

       Mediasi dan Negosiasi

       Membangun konsensus

       Memfasilitasi kelompok

       Organisasi

2.    Peran Representasi, yaitu :

       Advokasi

       Media Massa

       Hubungan Masyarakat

       Jaringan kerja 

C.   KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Upaya pemecahan masalah dan perubahan sosial yang akar masalahnya bersentuhan langsung dengan sektor perekonomian negara merupakan upaya yang cukup berat untuk dilakukan.  Pemerintah akan selalu berdalih bahwa kebijakan yang ditetapkan bertujuan untuk mencapai stabilisasi ekonomi negara dan upaya melindungi sumber daya alam.  Pada akhirnya tarif listrik mungkin harus tetap naik tetapi sebelumnya Pemerintah perlu melakukan upaya penguatan ekonomi masyarakat miskin dengan berbagai program bantuan dan pemberdayaan.  Alternatif pemecahan masalah yang direkomendasikan adalah :

  1. Pemerintah perlu mempertimbangkan kembali penetapan tarif listrik yang berkeadilan sosial yaitu dengan memberikan perbedaan tarif listrik bagi masyarakat miskin.
  2. Penyuluhan secara luas dan berkesinambungan kepada masyarakat agar melakukan penghematan energi listrik dan memberikan pengetahuan dasar kepada masyarakat mengenai cara penghitungan tarif penggunaan listrik.
  3. Penetapan prosentanse yang rasional dan terjangkau terhadap kenaikan harga barang yang diakibatkan oleh kenaikan biaya produksi pada sektor perindustrian.
  4. Pembagian lampu hemat energi secara gratis kepada masyarakat terutama masyarakat miskin.