Tags

, ,


I.          PENGANTAR

Provinsi Nusa Tenggara Timur terdiri dari 1 Kota dan 19 Kabupaten, yaitu: Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, Alor, Lembata, Flores Timur, Sikka, Ende, Ngada, Nage Keo, Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Rote Ndao, Sumba Timur, Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya.  Masing-masing Kabupaten dan Kota memiliki keragaman suku yang sangat variatif.  Dalam satu Kabupaten dapat terdiri lebih dari 1 suku, bahkan di Kabupaten Alor jumlah suku lebih dari 12 dengan jenis bahasa mencapai 100.

Penyusun memilih topik analisa komunitas Adonara Barat yang ada di Kabupaten Flores Timur karena komunitas ini memiliki keunikan yang sangat khas.  Salah satu keunikan komunitas Adonara Barat adalah “belis” atau “mas kawin” untuk upacara pernikahan mereka adalah gading gajah.  “Belis” ini menjadi sangat unik karena di Nusa Tenggara Timur tidak ada hewan gajah dan jumlah gading yang digunakan sebagai “belis” ditentukan berdasarkan kasta dalam komunitas atau suku di Adonara Barat.  Keunikan lainnya dari komunitas di Adonara Barat adalah semangat merantau dan keberanian sebagian besar anggota komunitas untuk menjadi Tenaga Kerja di Malaysia walaupun seringkali dengan cara yang ilegal.  Anggota-anggota komunitas Adonara Barat merantau ke Malaysia sudah sejak tahun 1960-an.  Salah satu pemicu masalah pemulangan TKI Ilegal dari Malaysia adalah jumlah pekerja migran ilegal yang semakin banyak dan membentuk komunitas-komunitas baru di Malaysia.  Sebagaimana diketahui bahwa kerajaan Malaysia kurang memberi perhatian kepada suku-suku, etnis atau komunitas-komunitas minoritas di daerahnya.  Pada tahun 2001 – 2007, pekerja migran ilegal dari Malaysia yang dipulangkan ke Nusa Tenggara Timur mencapai 12.000 orang dan 60% di antaranya adalah pekerja migran yang berasal dari Adonara Barat.

Komunitas Adonara Barat biasanya memperkenalkan diri sebagai “orang Flores” atau suku Flores pada saat berada di luar Nusa Tenggara Timur.  Di lingkup Provinsi Nusa Tenggara Timur biasanya mereka akan menyebut diri sebagai “orang Flores Timur”.  Namun pada saat bertemu dengan sesama yang berasal dari pulau Flores atau Kabupaten Flores Timur maka perkenalan dilakukan secara spesifik dengan menyebutkan nama Kecamatan dan komunitasnya.

Selain “belis” dan kecenderungan komunitas Adonara Barat untuk merantau, penyusun melihat banyak keunikan lainnya yang layak untuk dicermati dan dianalisa.  Kecenderungan untuk kawin mawin dengan suku lain yang disebabkan oleh jumlah “belis” yang tidak terjangkau adalah salah satu faktor yang mungkin akan menyebabkan komunitas Adonara Barat semakin terkikis karena pembauran.  Pembahasan mengenai komunitas Adonara Barat akan diuraikan pada bagian-bagian selanjutnya.

 

II.         PROFIL KOMUNITAS ADONARA BARAT

Kabupaten Flores Timur adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur.  Flores Timur terletak di antara Kabupaten Sikka dan Kabupaten Lembata.  Wilayah Kabupaten Flores Timur terdiri dari sebagian daratan di ujung Timur pulau Flores, pulau Adonara, pulau Solor dan beberapa pulau kecil lainnya (seperti tampak pada gambar.  Menurut data Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada tahun 2005 tercatat penduduk Kabupaten Flores Timur berjumlah 220.104 jiwa. 

Gambar 1.

Peta Pulau Flores dan Pulau-pulau di sekitarnya

 

 

 Pulau Adonara merupakan pulau yang cukup besar dan wilayahnya terbagi atas beberapa Kecamatan, salah satunya Kecamatan Adonara Barat.  Sebelum tahun 2006, pulau Adonara hanya terbagi atas 2 wilayah, yaitu Adonara Timur dan Adonara Barat. 

Gambar 2.

Peta Kabupaten Flores Timur

 Kecamatan Adonara terdiri dari 8 Desa namun sampai saat ini penduduk desa-desa yang terletak di bagian Barat pulau Adonara Barat tetap menyebut diri mereka “Putra Adonara Barat”.  Karakteristik wilayah Timur dan Barat pulau Adonara ditandai oleh tiga ciri utama, yaitu kondisi geografis, agama dan mata pencaharian.  Wilayah Adonara Timur sebagian besar adalah pesisir pantai dan penduduknya mayoritas beragama Islam sedangkan wilayah Adonara Barat merupakan daerah pedalaman dengan topografi perbukitan dan pegunungan.  Penduduk Adonara wilayah Barat mayoritas beragama Katolik.  Mata pencaharian utama penduduk di wilayah Timur Adonara adalah pedagang dan nelayan.  Penduduk Adonara wilayah Barat umumnya adalah petani (sawah, ladang dan kebun), tukang kayu dan pegawai pada kantor Pemerintah atau Swasta. 

Komunitas di Adonara Barat terdiri atas beberapa kasta.  Raja-raja adat di Adonara Barat adalah mereka yang berasal dari marga Tokan dan Gorantokan.  Agama Katolik diperkenalkan oleh para Misionaris Asing (utamanya Belanda dan Portugis).  Para Misionaris ini juga memberikan pelayanan pendidikan formal oleh karena itu umumnya tingkat intelektual dan keterampilan penduduk di Adonara Barat cukup tinggi.  Pendidikan yang diberikan oleh para Misionaris juga memacu semangat komunitas untuk merantau dalam rangka menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi.  Bukti yang dapat dilihat dari hasil pendidikan yang mereka peroleh adalah kemampuan putra daerah untuk menduduki banyak posisi penting dalam Pemerintahan, baik di tingkat Kabupaten, Provinsi bahkan Nasional.

Salah satu ciri khas yang juga merupakan hasil pendidikan para Misionaris adalah banyak putra daerah yang menjadi biarawan dan biarawati.  Keberhasilan anggota keluarga menjadi biarawan atau biarawati (Pastor, Bruder atau Suster) adalah suatu kebanggaan bagi keluarga dan komunitas.  Banyak pejabat gereja Katolik di Indonesia (Uskup atau Pengurus Komisi Wali Gereja Katolik) berasal dari Adonara Barat.

Anggota komunitas Adonara Barat yang merantau ke luar pulau atau ke luar Provinsi umumnya tidak akan kembali ke daerahnya bila belum berhasil.  Hal ini pula yang menyebabkan banyak di antara mereka yang memilih bekerja di Malaysia sekalipun dengan cara yang ilegal.  Prestise bagi anggota komunitas Adonara Barat di daerah asalnya adalah kemampuan mereka menduduki jabatan dalam Pemerintahan, pekerjaan dengan penghasilan yang cukup di kantor-kantor swasta, tingkat pendidikan yang tinggi atau kemampuan untuk mengirimkan biaya untuk memperbaiki rumahnya di daerah asal.  Secara umum, tingkat sosial, ekonomi dan lingkungan permukiman komunitas Adonara Barat jauh lebih memadai daripada penduduk di Adonara Timur. 

Adat istiadat perkawinan di Kabupaten Flores Timur secara umum menggunakan gading gajah sebagai “belis” (mas kawin).  “Belis” ini biasanya ditentukan oleh status sosial ekonomi keluarga calon pengantin perempuan.  Semakin tinggi status sosial ekonomi pihak perempuan maka semakin banyak “belis” gading yang harus disediakan oleh pihak laki-laki.  Penduduk Kabupaten Flores Timur yang tinggal di daratan pulau Flores mentolerir jumlah gading yang harus disediakan oleh pihak laki-laki dan dapat digantikan dengan perhiasan (emas), uang atau hewan ternak (sapi, kerbau atau kambing).  Adat “belis” di Adonara Barat sampai saat ini merupakan sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar.  Semakin tinggi kedudukan keluarga pihak perempuan dalam komunitas dan struktur adat maka semakin banyak jumlah gading yang harus disediakan.  “Belis” gading gajah ini bahkan tidak hanya ditentukan dari jumlahnya saja tetapi juga dari ukuran, bentuk dan kesempurnaan fisik gading tersebut.  “Belis” yang harus disediakan oleh pihak laki-laki yang akan melamar perempuan dari komunitas Adonara Barat berkisar antara 1 (satu) buah sampai 20 (dua puluh) buah.  Tingkat pendidikan, pekerjaan dan penghasilan atau paras calon pengantin perempuan bukan merupakan unsur penilaian yang mempengaruhi jumlah “belis”.  Jumlah “belis” semata-mata hanya ditentukan oleh status dalam struktur adat (kasta).

Apabila calon pengantin laki-laki dan calon pengantin perempuan telah sepakat untuk menikah namun pihak laki-laki belum dapat membayar “belis” maka dapat ditempuh 2 (dua) cara, yaitu :

a.    Kawin Lari

Pihak laki-laki membawa pengantin perempuan masuk ke dalam keluarganya dan dilakukan pernikahan secara agama dan hukum.  Pernikahan ini diketahui oleh pihak keluarga perempuan tetapi status pengantin perempuan tidak lagi menjadi anggota komunitasnya (kawin keluar).

b.    Hutang “Belis”

Pihak laki-laki menyetujui permintaan “belis” yang diajukan pihak perempuan tetapi karena belum dapat menyetujuinya maka “belis” tersebut dianggap “hutang”.  Pernikahan dapat dilakukan secara hukum, agama dan adat.  Apabila semasa hidupnya pengantin laki-laki belum dapat menyediakan “belis” gading gajah yang telah disanggupinya maka hutang “belis” ini menjadi tanggungan anak cucunya.  Hutang “belis” di Adonara Barat biasanya turun temurun dan konsekuensinya adalah posisi pihak laki-laki bersama keturunannya dipandang rendah dalam komunitas dan tidak mempunyai hak suara dalam berbagai acara adat yang penting dan besar. 

Adat “belis” merupakan adat yang berat dalam komunitas Adonara Barat.  Menurut tua-tua adat di Adonara Barat, sejarah penggunaan gading gajah sebagai “belis” berawal dari perniagaan komunitas Adonara Barat dengan bangsa-bangsa Asing (seperti India dan Afrika).  Pada jaman dulu perniagaan dilakukan dengan cara barter (tukar menukar).  Hasil pertanian dan perkebunan yang menjadi komoditi utama di Adonara Barat adalah kopi, jagung, jambu mente dan palawija.  Cerita para tua-tua adat ini dapat diterima dengan logika karena di Nusa Tenggara Timur dan khususnya di Adonara Barat tidak ada populasi hewan gajah dan belum pernah ada riwayat gajah yang hidup di sana.

Adat “belis” bahkan menjadi semakin berat saat ini karena jumlah gading gajah yang dimiliki komunitas semakin berkurang sedangkan untuk membeli gading gajah dari luar (misalnya didatangkan dari Afrika) membutuhkan biaya yang sangat besar.  Harga gading gajah berukuran ± 1 meter berkisar antara Rp. 4.000.000,- (Empat Juta Rupiah) sampai dengan Rp. 10.000.000,- (Sepuluh Juta Rupiah) tergantung dari bentuk, diameter dan kecacatannya.  Banyak gading gajah yang dimiliki komunitas yang sudah dijual keluar, baik dalam bentuk utuh maupun dalam bentuk perhiasan, sebagai sumber pendapatan ekonomi.

Komunitas Adonara Barat banyak tersebar di berbagai daerah di Indonesia, utamanya di Jakarta.  Mereka memelihara kekerabatan dengan berbagai cara, antara lain dengan kegiatan arisan keluarga, acara-acara keagamaan dan acara-acara kesenian.  Salah satu kegiatan yang dapat menyatukan komunitas Adonara Barat di wilayah Jakarta adalah pertunjukan kesenian di anjungan Taman Mini Indonesia Indah setiap bulan.

 

Gambar 3.

Pakaian dan Tarian Tradisional Komunitas Adonara Barat

 

 

III.    ANALISA TERHADAP KOMUNITAS ADONARA BARAT 

A.   Tingkat Kedekatan Relasi Interpersonal yang diharapkan di antara Anggota Komunitas

Relasi interpersonal di antara anggota komunitas yang tinggal di luar daerah asalnya sangat baik.  Hal ini terbukti dari intensitas dan frekuensi pertemuan di antara anggota-anggota komunitas dalam berbagai kegiatan.  Salah satu ciri yang menonjol dalam relasi interpersonal ini adalah pola keluarga “luas” (extended family) di mana dalam suatu keluarga tidak hanya terdiri dari suami – istri dan anak-anak tetapi juga sanak saudara dari pihak suami maupun istri.  Relasi interpersonal juga tidak hanya dinyatakan dalam hubungan keluarga sedarah.  Anggota komunitas yang berasal dari desa-desa di wilayah Adonara Barat akan diterima dengan baik oleh keluarga-keluarga atau komunitas Adonara Barat di daerah perantauan.  Hal ini juga yang menyebabkan banyaknya Tenaga Kerja Indonesia Ilegal asal Adonara Barat di Malaysia.  Di daerah perantauan mereka akan saling melindungi dan mendukung.  Di beberapa wilayah di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Kupang dapat ditemui permukiman-permukiman yang menjadi tempat tinggal anggota komunitas Adonara Barat secara berkelompok, misalnya di Cilandak dan Jati Bening di Jakarta dan Kampung Adonara di Kupang.

Berbeda dengan komunitas yang tinggal di perantauan, anggota komunitas Adonara Barat yang tinggal di daerah asal ternyata sangat kaku dalam relasi interpersonal.  Relasi interpersonal sangat diwarnai oleh struktur adat.  Hal ini seringkali menyebabkan anggota komunitas di perantauan enggan pulang ke daerah asal karena akan terbelenggu oleh struktur adat dan relasi interpersonal yang selalu berkaitan dengan kasta.  Anggota komunitas yang menikah dengan orang di luar komunitasnya atau belum melunasi “belis” biasanya tidak akan pulang ke daerah asal kalau tidak terpaksa (misalnya harus pulang karena ada kerabat dekat yang meninggal).  Demikian pula anggota komunitas yang merasa dirinya “belum menjadi apa-apa”.

Mencermati relasi interpersonal yang terjadi di daerah asal Adonara Barat, penyusun memprediksi bahwa dalam jangka waktu tertentu komunitas tersebut akan mulai memudar atau kehilangan keasliannya.  Di satu sisi perlu untuk melestarikan nilai-nilai budaya komunitas Adonara Barat tetapi di sisi lain komunitas ini akan kehilangan banyak anggotanya sebagai akibat struktur adat yang kaku dan nilai upacara adat yang membutuhkan biaya besar. 

B.   Tingkat Otonomi yang diharapkan dari Sistem Eksternal

Salah satu fenomena akibat adat istiadat yang penyusun nilai kurang baik dalam komunitas Adonara Barat adalah tingginya tingkat persaingan dalam mengaktualisasikan diri pada acara-acara adat tertentu.  Dalam kegiatan-kegiatan adat seperti upacara pemakaman, Komuni Pertama (Sihdi atau upacara Inisiasi dalam agama Katolik), perkawinan dan sebagainya, anggota-anggota komunitas cenderung mengaktualisasikan diri secara ekonomi.  Hal ini ditandai dengan berapa lama suatu upacara dilaksanakan, berapa banyak jamuan makan yang dapat disediakan, berapa banyak anggota komunitas yang dapat diundang untuk menghadiri acara adat.  Konsekuensi dari persaingan ini adalah biaya yang sangat besar dan tidak jarang anggota komunitas harus berhutang atau menjual harta miliknya.

Pemerintah Kabupaten Flores Timur kemudian mengeluarkan Peraturan Daerah yang membatasi jumlah biaya atau hewan ternak yang boleh digunakan dalam acara-acara adat.  Sebagai contoh : untuk upacara adat pemakaman biasanya disediakan belasan bahkan puluhan hewan ternak (sapi dan kambing) untuk jamuan makan.  Peraturan Daerah Kabupaten Flores Timur membatasi hewan ternak (kambing) yang boleh disediakan untuk upacara tersebut hanya 3 (tiga) ekor.  Apabila anggota komunitas menyediakan lebih maka akan dikenakan denda.

Berkaitan dengan persaingan yang tidak sehat dalam upacara adat, penyusun menilai bahwa campur tangan Pemerintah bertujuan positif sekalipun hal itu berarti komunitas tidak diberi otorisasi dalam melaksanakan aturan-aturan komunitasnya.  Di sisi lain, penyusun menganalisa bahwa intervensi sistem eksternal akan merambah ke bidang-bidang otonomi lainnya dalam komunitas.  Apabila intervensi sistem eksternal bertujuan untuk memberikan “pencerahan” bagi keberlangsungan kehidupan komunitas maka intervensi tersebut tidak akan mempengaruhi otonomi komunitas.  Bila intervensi tersebut mempunyai kepentingan lain maka dikhawatirkan akar rumput nilai-nilai dan norma-norma komunitas berangsur-angsur akan hilang. 

C.   Distribusi Kekuasaan

Kekuasaan dalam komunitas tidak didistribusikan secara merata, baik di daerah asal maupun di daerah perantauan.  Komunitas Adonara Barat sebagaimana umumnya komunitas di Indonesia menganut patrilinialisme atau garis kekuasaan dari pihak laki-laki.  Struktur kekuasaan dalam komunitas Adonara Barat dipertegas lagi dengan struktur adat (kasta).  Dalam berbagai kebutuhan pengambilan keputusan maka yang berhak membuat keputusan adalah anggota komunitas yang tinggi kastanya (dalam komunitas ini tidak menyebutnya sebagai kasta).  Apabila dibutuhkan pengambilan keputusan di daerah asalnya sedangkan raja adat tinggal di perantauan maka raja adat tersebut harus pulang dan menyatakan keputusannya.  Pengambilan keputusan tersebut tidak dapat diwakili atau dikuasakan kepada orang lain.

Dalam hal distribusi kekuasaan, komunitas Adonara Barat sulit berkembang karena sekalipun ada anggotanya yang sudah memiliki posisi penting dalam Pemerintahan tetapi ia tidak mempunyai hak suara dalam pengambilan keputusan dalam komunitasnya.  Hal ini pula yang menyebabkan banyak anggota komunitas yang tingkat kualitas sumber dayanya sudah tinggi tetapi enggan untuk pulang dan membangun daerah asalnya karena suara atau pendapatnya cenderung akan diabaikan oleh komunitas asalnya. 

D.   Partisipasi Anggota dalam Kegiatan Komunitas

Setiap anggota komunitas dapat dan bahkan diharapkan berpartisipasi dalam kegiatan komunitas.  Hal ini terbukti dari banyaknya acara-acara adat maupun acara komunitas yang melibatkan seluruh anggota.  Di daerah asalnya, setiap anggota komunitas yang ada di perantauan akan diundang untuk menghadiri acara-acara komunitas.  Sekalipun anggota komunitas tidak dapat hadir tetapi pemberitahuan atau undangan pasti akan disampaikan.  Anggota komunitas yang tinggal di perantauan pun akan berpartisipasi dalam berbagai bentuk untuk mendukung kegiatan di daerah asalnya.  Sebagai contoh : menjelang hari raya Natal atau Paskah biasanya anggota komunitas di perantauan akan mengirim “uang lilin” untuk upacara dalam komunitas.

Partisipasi anggota untuk kegiatan komunitas di perantauan juga sangat baik.  Hal ini terbukti dari frekuensi kegiatan dan jumlah anggota yang hadir dalam berbagai acara komunitas.  Sebagai contoh : Misa atau kebaktian Inkulturasi yang diselenggarakan di salah satu gereja Katolik di Jakarta Selatan.  Komunitas Adonara Barat diberi kesempatan untuk menyelenggarakan upacara tersebut sesuai dengan adat istiadatnya.  Seluruh anggota komunitas yang menjadi umat di gereja tersebut akan mengambil bagian dan berperan aktif dalam pelaksanaannya dan tidak sekedar memberikan kontribusi dalam bentuk materi.

Dalam hal partisipasi, penyusun menilai bahwa partisipasi anggota komunitas Adonara Barat sangat baik.  Sebagai pembanding, dalam komunitas Batak biasanya anggota komunitas yang mempunyai kelebihan di bidang materi dan mempunyai posisi penting dalam pekerjaannya (Pemerintah maupun Swasta) cenderung memberikan kontribusi dalam bentuk materi dan tidak selalu berperan aktif dalam kegiatan komunitas.  Partisipasi anggota komunitas Adonara Barat akan meningkat lagi pada upacara-upacara keagamaan, baik agamanya sendiri maupun agama lain.  Toleransi komunitas Adonara Barat terhadap agama atau suku lain dipengaruhi oleh tingginya angka pernikahan dengan orang-orang di luar komunitas, baik yang berbeda suku maupun berbeda agama.  Dalam suatu keluarga Adonara Barat seringkali ditemui ayah beragama Katolik dan ibu beragama Islam atau sebaliknya.  Anak-anak dalam keluarga juga diberi kebebasan untuk memeluk agama yang diyakininya tanpa dipengaruhi oleh orangtuanya. 

E.   Homogenitas dan Heterogenitas menjadi Bagian Ideal dari Komunitas

Di daerah asalnya, komunitas Adonara Barat sangat homogen.  Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan suku atau anggota komunitas lain untuk bertahan dalam komunitas karena tidak adanya distribusi kekuasaan.  Sebab lainnya adalah perbedaan penghargaan terhadap suku atau etnis lain yang “kawin masuk” dalam komunitas Adonara Barat.  Apabila ditinjau dari komunitas pulau Adonara (Timur dan Barat) maka komunitas di pulau ini cukup heterogen tetapi di wilayah permukiman komunitas itu sendiri sangat terasa homogenitasnya.

Faktor lain yang menyebabkan suku atau etnis lain tidak mau bergabung dalam komunitas Adonara Barat adalah issu atau kepercayaan mengenai “kekuatan-kekuatan mistik” yang menjadi benteng pertahanan komunitas.  Dipercaya atau tidak, dialami atau tidak namun masing-masing komunitas utamanya di daerah-daerah di wilayah Timur Indonesia memang masih kental dengan faham dan aliran Dinamisme maupun Animisme.

“Belis” yang mahal dalam upacara pernikahan komunitas Adonara Barat telah menyebabkan banyak anggota komunitas yang laki-laki merantau dan mendapatkan istri dari komunitas lain sedangkan anggota komunitas yang perempuan cenderung tidak mendapatkan pasangan hidup kecuali ia berani keluar komunitas dan menikah dengan suku atau etnis lain.  Tingginya angka perempuan yang tidak menikah di Adonara Barat membuat homogenitas yang monoton dan semakin rendahnya distribusi kekuasaan.

Komunitas Adonara Barat di daerah perantauan biasanya cukup heterogen, utamanya disebabkan oleh tingkat pendidikan, bidang pekerjaan dan perkawinan antar suku.  Komunitas Adonara Barat di perantauan juga cenderung terbuka untuk menerima suku-suku atau komunitas lain untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.  Heterogenitas dalam komunitas Adonara Barat membawa dampak positif bagi mereka untuk beradaptasi dan berasimilasi dengan suku atau komunitas lain.  Dampak positif lainnya adalah berkurangnya tingkat persaingan di antara anggota komunitas dalam penyelenggaraan upacara-upacara adat atau keagamaan.  Dampak negatif dari heterogenitas dalam komunitas adalah hilangnya akar rumput nilai-nilai budaya pada generasi muda dalam komunitas tersebut (biasanya pada generasi ketiga dan seterusnya).

Suatu hal yang cukup memprihatinkan dalam komunitas Adonara Barat yang heterogen adalah aktualisasi diri yang cenderung rendah (terutama bila menikah antar suku) dan kemampuan bersaing di bidang pendidikan dan pekerjaan relatif kalah dibandingkan dengan komunitas lain. 

F.    Catatan Tambahan dari Penyusun

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman penyusun yang pernah tinggal di antara komunitas Adonara Barat, penyusun memberikan beberapa catatan atau analisa tambahan terhadap komunitas tersebut, yaitu :

1.    Ditinjau dari kualitas sumber daya manusia, mata pencaharian dan kinerja anggota-anggota komunitas sebenarnya mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak bahkan memadai.  Kemiskinan dan keterbelakangan yang terjadi pada komunitas tersebut, utamanya yang tinggal di daerah asalnya lebih banyak disebabkan oleh konsumerisme dalam penyelenggaraan upacara-upacara adat atau kegiatan dalam komunitas.

2.    “Belis” pernikahan yang sangat mahal dan telah menyebabkan sebagian besar anggota komunitas yang laki-laki menikah dengan suku lain adalah faktor utama yang akan memudarkan nilai-nilai dan akar rumput komunitas.  Perkawinan antar suku ini pula yang akan mempercepat pengikisan komunitas karena dalam jangka waktu tertentu tidak akan ada lagi perkawinan dalam satu komunitas.  Ada joke di lingkup Dinas Sosial Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk mengusulkan bantuan ternak gajah untuk komunitas Adonara Barat untuk diambil gadingnya agar komunitas tersebut dapat dilestarikan melalui perkawinan satu suku dengan “belis” yang sesuai.

3.    Distribusi kekuasaan yang tidak merata menyebabkan komunitas Adonara Barat kurang dikenal di berbagai daerah.  Anggota komunitas yang memiliki kasta tinggi dan memiliki posisi penting dalam pekerjaan (Pemerintahan maupun Swasta) cenderung menyimpan sendiri kekuasaannya.  Hal ini menyebabkan harkat dan martabat komunitas tidak terangkat ke permukaan.  Anggota komunitas dengan status kasta yang tinggi dan posisi pekerjaan yang baik biasanya hanya dikenal sebagai individu.

4.    Solidaritas dan toleransi yang tinggi yang dimiliki komunitas Adonara Barat merupakan modal sosial yang sangat potensial untuk membangun daerah asalnya maupun di daerah perantauan di mana mereka tinggal tetapi “pencerahan” (dalam hal distribusi kekuasaan, biaya dalam upacara adat dll) adalah hal yang utama dan pertama harus diberikan kepada komunitas tersebut agar modal sosial yang mereka miliki dapat dikembangkan.