Tags

, ,


I. PENJELASAN UMUM

A. PENGERTIAN

1. Anak

Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

(Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002)

2. Lanjut Usia

Lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas.

a. Lanjut usia Potensial adalah lanjut usia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang dan atau jasa.

b. Lanjut usia Tidak Potensial adalah lanjut usia yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.

(Undang-undang Nomor 13 Tahun 1998 dan Peraturan Pemerintah RI Nomor 43 Tahun 2004).

B. HAK DAN KEWAJIBAN

1. Anak

a. Hak Anak

1) Hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

2) Suatu nama sebagai identitas diri dan status kewarganegaraan.

3) Beribadah menurut agamanya, berpikir, dan berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya, dalam bimbingan orang tua.

4) Mengetahui orang tuanya, dibesarkan, dan diasuh oleh orang tuanya sendiri.

5) Diasuh atau diangkat sebagai anak asuh atau anak angkat oleh orang lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku apabila dalam hal karena suatu sebab orang tuanya tidak dapat menjamin tumbuh kembang anak, atau anak dalam keadaan terlantar.

6) Memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial.

7) Memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.

8) Anak yang menyandang cacat juga berhak memperoleh pendidikan luar biasa, sedangkan bagi anak yang memiliki keunggulan juga berhak mendapatkan pendidikan khusus.

9) Menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan.

10) beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri.

11) Setiap anak yang menyandang cacat berhak memperoleh rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial.

12) Mendapat perlindungan dari perlakuan :

a) Diskriminasi;

b) Eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual;

c) Penelantaran;

d) Kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan;

e) Ketidakadilan; dan

f) perlakuan salah lainnya.

13) Diasuh oleh orang tuanya sendiri, kecuali jika ada alasan dan/atau aturan hukum yang sah menunjukkan bahwa pemisahan itu adalah demi kepentingan terbaik bagi anak dan merupakan pertimbangan terakhir.

14) Memperoleh perlindungan dari :

a) Penyalahgunaan dalam kegiatan politik;

b) Pelibatan dalam sengketa bersenjata;

c) Pelibatan dalam kerusuhan sosial;

d) Pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan; dan

e) Pelibatan dalam peperangan.

15) Memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan, atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi.

16) Memperoleh kebebasan sesuai dengan hukum. (penangkapan, penahanan, atau tindak pidana penjara anak hanya dilakukan apabila sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir).

17) Setiap anak yang dirampas kebebasannya berhak untuk :

a) Mendapatkan perlakuan secara manusiawi dan penempatannya dipisahkan dari orang dewasa;

b) Memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap tahapan upaya hukum yang berlaku; dan

c) Membela diri dan memperoleh keadilan di depan pengadilan anak yang objektif dan tidak memihak dalam sidang tertutup untuk umum.

18) Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku kekerasan seksual atau yang berhadapan dengan hukum berhak dirahasiakan.

19) Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku tindak pidana berhak mendapatkan bantuan hukum dan bantuan lainnya.

b. Kewajiban Anak

1) Menghormati orang tua, wali, dan guru;

2) Mencintai keluarga, masyarakat, dan menyayangi teman;

3) Mencintai tanah air, bangsa, dan negara;

4) Menunaikan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya; dan

5) Melaksanakan etika dan akhlak yang mulia.


2. Lanjut Usia

a. Hak Lanjut Usia

Walaupun tidak disebutkan secara khusus dalam peraturan perundang-undangan tertentu tetapi hak lanjut usia pada dasarnya mengacu pada ketentuan dan atau peraturan perundang-undangan yang berlaku mengenai hak asasi manusia dan hak warga negara. Hak lanjut usia antara lain adalah mendapat pelayanan kesehatan, pelayanan keagamaan dan spiritual, kesempatan kerja, pendidikan dan pelatihan, layanan bantuan hukum dan perlindungan sosial. Hak lanjut usia yang berbeda dengan hak orang dewasa lainnya adalah hak untuk mendapatkan kemudahan dalam penggunaan fasilitas, sarana dan prasarana umum, antara lain : keringanan biaya transportasi, pembuatan kartu tanda penduduk (KTP) seumur hidup dan aksesibilitas pada bangunan umum seperti lift khusus untuk lanjut usia di gedung bertingkat.

b. Kewajiban Lanjut Usia

Lanjut usia mempunyai kewajiban yang sama dengan warga negara dewasa lainnya, termasuk dalam hal membela negara, yang disesuaikan dengan kemampuannya masing-masing.

C. KEWAJIBAN DAN TANGGUNG JAWAB NEGARA, PEMERINTAH, MASYARAKAT, KELUARGA DAN ORANG TUA

1. Penyelenggaraan perlindungan anak

a. Negara dan Pemerintah

1) Menghormati dan menjamin hak asasi setiap anak tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik, budaya dan bahasa, status hukum anak, urutan kelahiran anak, dan kondisi fisik dan/atau mental.

2) Memberikan dukungan sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan perlindungan anak.

3) Menjamin perlindungan, pemeliharaan, dan kesejahteraan anak dengan memperhatikan hak dan kewajiban orang tua, wali, atau orang lain yang secara hukum bertanggung jawab terhadap anak.

4) Mengawasi penyelenggaraan perlindungan anak.

5) Menjamin anak untuk mempergunakan haknya dalam menyampaikan pendapat sesuai dengan usia dan tingkat kecerdasan anak.

b. Masyarakat

Dilaksanakan melalui kegiatan peran masyarakat dalam penyelenggaraan perlindungan anak.

c. Keluarga dan Orang tua

1) Mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak;

2) Menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya; dan

3) Mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak.

4) Kewajiban dan tanggung jawab dapat beralih kepada keluarga, yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku apabila dalam hal orang tua tidak ada, atau tidak diketahui keberadaannya, atau karena suatu sebab, tidak dapat melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya.

2. Peningkatan Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia

Upaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia dilaksanakan secara terkoordinasi antara Pemerintah dan Masyarakat.

II. RENTANG KEHIDUPAN DAN TUGAS PERKEMBANGAN MANUSIA (ANAK SAMPAI LANJUT USIA)

RENTANG KEHIDUPAN RENTANG USIA TUGAS PERKEMBANGAN PERAN ORANG TUA/ PENGASUH/KELUARGA/ LINGKUNGAN PERKEMBANGAN YANG DICAPAI KRISIS YG MUNGKIN TERJADI
PRENATAL (*) Sejak masa janin s/d 0 tahun (saat lahir) - Nutrisi dan gizi yang cukup

- Kesehatan fisik, psikis, sosial dan emosional ibu

Lahir normal dan sehat tepat waktu - Lahir mati

- Lahir cacat

- Lahir tidak tepat waktu

- Persalinan tidak normal

Infancy 0 s/d 2 Thn - Kematangan sensorik (peka terhadap rangsangan)

- Fungsi persepsi dan motorik

- Intelegensi dan pola hubungan awal

- Pemahaman alami terhadap obyek dan membuat pengelompokan

- Perkembangan emosi

- Menciptakan lingkungan psikis yang aman dan nyaman

- Membantu perkembangan emosional dan perkembangan kognitif

- Perilaku sebagaimana seharusnya “orang tua”

- Orang tua sebagai advokat/pembela

- Pentingnya dukungan sosial

Kematangan Curiga/Tidak percaya terhadap sesuatu atau orang lain
Toddlerhood (Anak kecil) 2 s/d 3 Thn - Elaborasi daya gerak

- Perkembangan bahasa (berbicara)

- Berkhayal

- Pengendalian diri

Proses utama dalam rentang usia ini adalah imitasi/peniruan sehingga sangat diperlukan tampilan peran dan fungsi orang tua dan lingkungan secara positif Mandiri Pemalu dan ragu-ragu
Early school Age (Usia sekolah dini/awal) 4 s/d 6 Thn - Identifikasi jender

- Perkembangan moral dini/awal (menetapkan standar moral)

- Teori diri sendiri (pembentukan jati diri)

- Bermain dengan teman sebaya

- Proses utama : identifikasi

- Mengajari membaca

- Menyekolahkan di sekolah yang sesuai

- Mengukur kemajuan yang dicapai anak

Inisiatif Takut melakukan kesalahan
Middle Childhood (Usia anak madya) 6 s/d 12 Thn - Menjalin persahabatan (bersahabat)

- Melakukan tindakan konkrit

- Belajar keterampilan

- Mengevaluasi diri sendiri

- Bermain dalam kelompok

- Proses utama : Pendidikan dan pembelajaran

- Strategi untuk menghindarkan anak dari perlakuan salah/tindakan kejam

Rajin dan percaya diri Inferior (rendah diri)
Early Adolescence (Remaja dini/awal) 12 s/d 18 Thn - Kematangan fisik dan seksual

- Melakukan tindakan formal

- Perkembangan emosi

- Menjadi anggota dalam kelompok teman sebaya

- Menjalin relasi/hubungan pertemanan yang lebih khusus dengan teman yang berbeda jenis kelamin

- Proses utama : Kesenangan dalam bermain dengan teman sebaya

- Mendorong dan membantu anak untuk bergabung dengan kelompok teman sebaya

- Membantu anak untuk menemukan identitas/jati diri

- Memberi gambaran mengenai bahaya narkotika, alkohol dan perilaku menyimpang lainnya.

- Membantu anak mengidentifikasi kelompok etnis asal usulnya.

Mempunyai identitas dalam atau sebagai anggota kelompok Merasa terasing/ merasa dikucilkan
Later Adolescence (Remaja akhir) 18 s/d 24 Thn - Mandiri (bersikap otonomi, tidak tergantung pada orang tua)

- Identifikasi jender

- Internalisasi moral

- Memilih karir

Proses utama : Eksperimen peran dan identifikasi etnik asal usulnya. Mempunyai identitas diri/jati diri Bingung terhadap jati diri
Early Adulthood (Dewasa dini/awal) 24 s/d 34 Thn - Eksplorasi hubungan yang lebih intim/serius dengan lawan jenis/menikah

- Mempunyai keturunan (reproduksi)

- Bekerja

- Gaya/pola hidup

- Kebutuhan kasih sayang

- Pekerjaan yang layak

- Kemampuan reproduksi dalam situasi dan kondisi yang kondusif

Akrab dengan orang lain Mengisolasi diri sendiri/menyendiri/sulit bergaul
Middle Adulthood (Dewasa Madya) 34 s/d 60 Thn - Memanage/mengendalikan karir

- Memelihara perkawinan/hubungan relasi yang lebih intim dengan lawan jenis

- Mengembangkan relasi dalam karir/pekerjaan

- Mengendalikan kehidupan rumah tangga

- Interaksi dengan lingkungan (kemampuan berinteraksi dan penerimaan lingkungan)

- Kemampuan kreativitas

Generatif (berkembang ke arah kemajuan) Stagnan (tidak mengalami kemajuan yang berarti)
Later Adulthood (Dewasa akhir) 60 s/d 75 Thn - Menerima kehidupan sebagaimana adanya/puas terhadap hasil yang dicapai dalam hidupnya

- Mengalihkan energi untuk melakukan peran dan aktivitas baru dalam masa pensiun (misalnya sebagai kakek – nenek)

- Mengembangkan semangat intelektual

- Membangun dan mengembangkan suatu cara pandang mengenai kematian

- Proses utama : Introspeksi

- Perbedaan usia pensiun (masa istirahat)

- Persiapan menghadapi dan memasuki masa pensiun

- Penyesuaian diri dalam masa pensiun

Integritas (jujur dan tulus) Putus asa, menyerah
Very Old Age (Lanjut usia/sangat tua) 75 Thn s/d meninggal - Menyesuaikan diri dengan perubahan fisik yang disebabkan oleh perubahan usia

- Mengembangkan perspektif psikohistori (sejarah psikologis)

- Berkelana (berwisata/berjalan-jalan ke daerah baru atau lokasi yang belum pernah didatangi sebelumnya)

- Proses utama : Dukungan sosial

- Ketersediaan biaya hidup

- Dinamika dukungan sosial

- Jaringan dukungan sosial

- Mengartikan kemunduran fisik dan psikis bukan sebagai kelemahan

- Fungsi dukungan secara optimal

- Peran dalam masyarakat

- Peran dalam kegiatan kreatif

Kekal/abadi (dikenang,mewariskan sesuatu yang penting dan berharga yang bukan hanya diukur dari materi) Punah (terlupakan atau dilupakan)

(*) Tidak diidentifikasikan dalam konsep khusus

III. MASALAH SOSIAL ANAK DAN LANJUT USIA

A. ANAK

Anak 

1. ANAK YANG MEMBUTUHKAN PERLINDUNGAN KHUSUS

a. Anak dalam Situasi Darurat akibat Bencana (Anak Korban Bencana Alam atau Bencana Sosial)

- Anak Terpisah (Separated Children)

- Anak Tanpa Pendamping

b. Anak yang menjadi Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (Traficking)

c. Anak dengan HIV/AIDS (Penderita HIV/AIDS)

d. Anak Korban Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat-zat Adiktif lainnya (NAPZA)

e. Anak Korban Eksploitasi Seksual

f. Anak Korban Eksploitasi Ekonomi (Pekerja Anak)

g. Anak dari Kelompok Minoritas dan Komunitas Adat Terpencil

2. ANAK DENGAN KECACATAN

Seseorang yang belum berusia 18 tahun yang mengalami kecacatan fisik, mental, fisik dan mental (cacat ganda) sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya secara wajar.

3. ANAK YANG BERHADAPAN DENGAN HUKUM

Anak yang telah mencapai usia 6 (enam) tahun tetapi belum mencapai usia 18 (delapan belas) tahun dan :

a. Diduga, disangka, didakwa atau dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana

b. Yang menjadi korban tindak pidana atau yang melihat dan atau mendengar sendiri terjadinya suatu tindak pidana.

4. ANAK TERLANTAR DAN ANAK JALANAN

a. Anak Terlantar

Anak yang tidak terpenuhi kebutuhannya secara wajar, baik fisik, mental, spiritual maupun sosial.

b. Anak Jalanan

Anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja atau hidup di jalanan dan tempat-tempat umum seperti terminal, pasar, stasiun dan taman kota.

5. ANAK BAWAH LIMA TAHUN (BALITA)

a. Seseorang sejak janin dalam kandungan sampai dengan usia lima tahun sejak kelahirannya.

b. Anak Rawan

Kelompok anak yang karena situasi, kondisi dan tekanan kultur maupun struktur menyebabkan mereka belum atau tidak terpenuhi hak-haknya sehingga inferior, rentan dan marginal.

B. LANJUT USIA

  1. Lanjut Usia Terlantar
  2. Lanjut Usia yang diperlakukan salah (Korban tindak kekerasan)
  3. Lanjut Usia Penderita Cacat
  4. Lanjut Usia dari Komunitas Adat Terpencil dan Kelompok Minoritas
  5. Lanjut Usia Korban Bencana

Lansia

IV. PRAKTEK PEKERJAAN SOSIAL

A. PEKERJAAN SOSIAL SEBAGAI SUATU PROFESI

Profesi Pekerjaan Sosial adalah suatu profesi yang mulai berkembang pada awal abad XX, pasca revolusi industri di negara-negara Eropa. Profesi Pekerjaan Sosial berkembang dari kegiatan amal (charitas) tetapi dalam perkembangannya sebagai suatu profesi Pekerjaan Sosial tidak melandaskan kegiatannya pada perbuatan amal (bantuan, sedekah). Pekerjaan sosial adalah suatu profesi pertolongan. Definisi Pekerjaan Sosial menurut International Federation of Social Workers (IFSW) dan National Association of Social Workers (NASW) tahun 2000 adalah :

“The Social Work proffesion promotes social change, problem solving in human relationships and the empowerment and liberation of people to enhance well being. Utilising theories of human behaviour and social systems, social work intervenes at the points where people interact with their environments. Principles of human rights and social justice are fundamental to social work”.

Sebagai suatu profesi, seseorang dapat disebut sebagai Pekerja Sosial Profesional apabila ia telah menempuh jenjang pendidikan khusus Pekerjaan Sosial (knowledge) pada tingkat tertentu (S-1, S-2 dan S-3), memiliki keterampilan khusus dan keterampilan umum yang disyaratkan (skill) dan mampu melaksanakan pekerjaannya dengan berlandaskan nilai-nilai (value). Perkembangan ilmu pengetahuan, dinamika kehidupan manusia, teknologi dan kompleksitas masalah sosial menyebabkan ketiga syarat utama tersebut (knowledge, skill and value) harus didukung lagi dengan sikap (attitude) dan seni (art) dalam proses pertolongan.

B. PEKERJAAN SOSIAL DENGAN ANAK DAN LANJUT USIA

Dalam melakukan proses pertolongan, seorang Pekerja Sosial harus memiliki kerangka konseptual yang terdiri dari seperangkat konsep (termasuk teori-teori yang relevan), keyakinan, nilai, proposisi, asumsi, hipotesis dan prinsip-prinsip. Teori-teori utama yang digunakan profesi Pekerjaan Sosial dalam proses pertolongan atau pelayanan langsung dalam konteks klinis (pelayanan bagi anak, remaja, lanjut usia, keluarga, korban narkotika dan penderita HIV/AIDS) adalah :

1. Teori Psikodinamik, terdiri dari :

a. Teori Psikologi Ego

b. Teori Relasi Obyek

2. Teori Sistem Emosi Keluarga

3. Teori Tingkah Laku

4. Teori Kognitif

5. Teori Terapi Interpersonal

6. Teori Keluarga Terstruktur

7. Teori Terapi Solusi Terfokus

8. Teori Wawancara Motivasional

9. Teori Naratif

10. Teori Krisis dan Intervensi

Pekerjaan Sosial juga mengembangkan cara pandang dan pendekatan terhadap faktor-faktor penyebab dan alternatif solusi dalam penanganan masalah sosial, yaitu tidak lagi mengasumsikan masalah sosial sebagai persoalan yang hanya timbul dan dapat diatasi oleh individu dan kelompok tetapi memandang kontinum yang lebih luas sebagai upaya dan proses pertolongan itu sendiri. Sebagai contoh : masalah sosial anak tidak dapat diselesaikan dengan memberikan pertolongan dan mengembangkan potensi anak tersebut tetapi melibatkan semua unsur dalam sistem masyarakat yang menjadi kontinum untuk menjadi agen dan sistem perubahan, sistem rujukan dan sistem pelaksana. Oleh karena itu, panti sosial bukan lagi merupakan alternatif utama untuk penanganan masalah anak, remaja dan lanjut usia tetapi merupakan pilihan terakhir (the last choice).

C. KODE ETIK PEKERJAAN SOSIAL TERHADAP KLIEN

1. Prinsip-prinsip Etik

a. Nilai : Pelayanan

Prinsip Etik : Tujuan utama Pekerja Sosial adalah menolong orang yang membutuhkan dan ‘mengantarkannya’ pada pemecahan masalah.

b. Nilai : Keadilan Sosial

Prinsip Etik : Pekerja Sosial menentang ketidakadilan sosial.

c. Nilai : Martabat dan ‘Harga’ (harga diri) seseorang/klien

Prinsip Etik : Pekerja Sosial respek/menerima perbedaan martabat dan harga diri setiap orang/klien.

d. Nilai : Pentingnya relasi antar manusia

Prinsip Etik : Pekerja Sosial mengakui relasi antar manusia sebagai kepentingan yang utama.

e. Nilai : Integritas

Prinsip Etik : Pekerja Sosial menunjukkan sikap dan tingkah laku yang bermartabat dan dapat dipercaya.

f. Nilai : Kompetensi

Prinsip Etik : Pekerja Sosial bekerja dalam ruang lingkup yang sesuai dengan kompetensinya dan selalu berusaha meningkatkan keahliannya.

2. Standar Etika

Etika Pekerja Sosial untuk bertanggungjawab terhadap Klien

a. Komitmen terhadap klien (Commitment to Client).

b. Memberi kesempatan dan menghargai klien untuk menentukan/mengambil keputusan dirinya sendiri (Self Determination).

c. Membuat perjanjian dengan klien terhadap segala kemungkinan yang akan dicapai dengan sebelumnya memberitahu klien mengenai hasil, resiko, keuntungan atau kerugian yang mungkin akan terjadi dalam proses pelayanan (Informed Consent).

d. Memiliki kompetensi dalam memahami keanekaragaman sosial budaya (Cultural Competence and Social Diversity).

e. Tidak memiliki atau terbawa dalam arus konflik kepentingan (Conflict of Interest).

f. Mengutamakan privasi dan kerahasiaan klien (Privacy and Confidentiality).

g. Menghindari hubungan khusus atau intim dengan klien yang berbeda jenis kelamin dengan dirinya tetapi tidak pula memilih-milih klien yang harus sama lawan jenis (Sexual Relationship).

h. Menghindari kontak fisik yang tidak sesuai dengan kebutuhan klien. Apabila ‘bahasa tubuh’ diperlukan untuk memberikan dukungan atau memberi semangat maka kontak fisik seperti memeluk klien atau menyentuk tangannya dilakukan di ruang yang terbuka, di depan orang lain serta dalam situasi dan kondisi yang memungkinkan (Physical Contact). Kontak fisik yang juga harus dihindari oleh Pekerja Sosial adalah sentuhan atau tindakan yang merupakan hukuman bagi klien.

i. Pekerja Sosial harus menghindari daya tarik seksual klien dan tidak boleh melakukan pelecehan seksual, baik melalui kata-kata, pandangan mata maupun sentuhan (Sexual Harassment).

j. Pekerja Sosial tidak boleh menghina atau menggunakan kata-kata kasar terhadap klien, baik secara lisan maupun melalui tulisan (Derogatory Language).

k. Pekerja Sosial layak menerima pembayaran atas pekerjaannya sesuai dengan perjanjian, kompetensi dan kinerja yang ditunjukkannya selama proses pelayanan. Pekerja Sosial tidak boleh meminta lebih dari “standar harga” pelayanan atas proses pertolongan yang diberikannya kepada klien (Payment for Services).

l. Apabila klien sudah mencapai batas kemampuannya untuk meningkatkan kapasitasnya maka Pekerja Sosial perlu menunjukkan tahap tersebut sebagai langkah yang penting dan merupakan hak klien untuk menghentikan usahanya (Clients Who Lack Decision – Making Capacity).

m. Pekerja Sosial dapat menghentukan sementara proses pelayanan apabila terjadi beberapa faktor penyebab yang tidak dapat dihindari, seperti perpindahan lokasi (misalnya klien pindah rumah), klien sakit atau mengalami kedukaan (Interruption Services).

n. Pekerja Sosial menghentikan proses pelayanan/pertolongan apabila masa kontrak sudah selesai, klien perlu dirujuk atau klien memutuskan untuk tidak melanjutkan proses pelayanan (Termination of Services).

D. PRINSIP-PRINSIP DALAM PENINGKATAN KESEJAHTERAAN SOSIAL ANAK DAN LANJUT USIA

1. Anak

a. Prinsip Non Diskriminasi (Non Discrimination)

b. Prinsip Kepentingan terbaik untuk Anak (The Best Interest of The Child)

c. Prinsip Hak hidup, kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang).

d. Prinsip Partisipasi.

2. Lanjut Usia

a. Prinsip Tidak memberikan stigma

b. Prinsip Tidak mengucilkan

c. Prinsip Menghindari sikap sensitif

d. Prinsip Pemenuhan kebutuhan secara tepat

e. Prinsip Pelayanan secara komprehensif

f. Prinsip Tidak membesar-besarkan masalah

g. Prinsip Menghindari sikap belas kasihan

h. Prinsip Pelayanan yang cepat dan tepat

i. Prinsip Pelayanan yang bermutu

j. Prinsip Pelayanan yang efektif dan efisien

k. Prinsip Pelayanan yang akuntabel

E. TEKNIK DAN KETERAMPILAN DALAM PEKERJAAN SOSIAL DENGAN ANAK DAN LANJUT USIA

Penggunaan teknik dan keterampilan yang dibutuhkan dalam proses pemberian pelayanan atau pertolongan bagi klien anak dan lanjut usia pada dasarnya harus mengacu pada kebutuhan dan masalah yang dihadapi oleh klien itu sendiri. Tugas perkembangan klien sesuai rentang usianya merupakan pertimbangan dasar dalam menentukan jenis pelayanan yang perlu diberikan. Selanjutnya jenis, kualitas dan tingkat keparahan masalah yang dihadapi klien merupakan kondisi yang harus diubah dengan teknik yang sesuai.

Bimbingan sosial merupakan bagian dari tahap intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan potensi klien untuk menghadapi masalah, mengatasi dan memecahkan masalah, memenuhi tugas perkembangannya serta mencapai hasil optimal dalam kehidupannya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Bimbingan keterampilan dapat diartikan dalam dua jenis kegiatan yang berbeda, yaitu : 1) Bimbingan keterampilan yang bertujuan agar klien terampil dalam menjalankan tugas perkembangannya dan 2) Bimbingan keterampilan yang bertujuan agar klien terampil dalam kegiatan usaha ekonomi produktif.

Bimbingan Sosial tidak selalu bisa sejalan dengan bimbingan keterampilan. Di sisi lain, bimbingan sosial juga tidak memiliki korelasi langsung bahkan bisa saja bertolak belakang dengan bimbingan keterampilan apabila keterampilan yang dimaksudkan adalah keterampilan yang berhubungan dengan upaya pemenuhan kebutuhan ekonomi klien. Ketika bimbingan sosial diberikan kepada klien eks korban eksploitasi ekonomi agar termotivasi untuk bermain dengan teman sebaya maka sangatlah destruktif apabila ia diberikan latihan keterampilan pertukangan untuk membentuk kelompok usaha bersama (KUBE).

Beberapa teknik dan keterampilan berikut ini dapat diterapkan dalam kegiatan bimbingan sosial dan keterampilan bagi anak dan lanjut usia sepanjang digunakan secara tepat dan sesuai kebutuhan, yaitu :

1. Teknik Wawancara

Tujuan teknik ini adalah untuk menggali sebanyak-banyaknya segala sesuatu informasi yang dapat menjadi dasar dan pertimbangan dalam perencanaan proses pelayanan. Keterampilan yang dibutuhkan adalah :

a. Keterampilan mendengar

b. Keterampilan mengamati

c. Keterampilan menciptakan dan menggunakan kondisi lingkungan

d. Keterampilan menyusun laporan perkembangan (rapport)

e. Keterampilan menemukan dan mengatasi hambatan

f. Keterampilan mengenal perasaan-perasaan ambivalensi

g. Keterampilan menggunakan otoritas

h. Keterampilan menggunakan pertanyaan

i. Keterampilan berbahasa (bahasa verbal dan non verbal)

2. Teknik memberikan Informasi dan Nasehat

Tidak semua klien membutuhkan informasi dan nasehat. Klien lebih membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarnya. Oleh karena itu, keterampilan yang dibutuhkan dalam memberikan informasi dan nasehat adalah :

a. Pemilihan kata yang tepat

b. Penyampaian informasi atau pesan secara ringkas (tidak bertele-tele), tepat sasaran tetapi mudah dimengerti.

c. Keterampilan berbahasa.

d. Keterampilan observasi.

e. Keterampilan mendengar.

f. Keterampilan untuk bersikap secara tepat.

3. Teknik Diskusi

Keterampilan yang diperlukan :

a. Keterampilan berbahasa

b. Keterampilan mendengar

c. Keterampilan observasi

d. Keterampilan mencatat

e. Keterampilan mengajukan pertanyaan

f. Keterampilan menyusun topik yang menarik bagi klien.

4. Teknik Observasi

Selain sebagai keterampilan, observasi juga merupakan teknik. Berdasarkan hasil observasi (pengamatan), seorang pekerja sosial dapat membuat perencanaan kegiatan yang tepat bagi klien. Keterampilan yang dibutuhkan dalam observasi adalah :

a. Keterampilan mencatat

b. Keterampilan menggunakan alat-alat perekam (kamera, handy cam, tape recorder).

c. Keterampilan menyusun laporan.

5. Teknik Permainan Peran (Role Playing)

Keterampilan yang diperlukan :

a. Keterampilan menentukan topik yang akan diperankan.

b. Keterampilan menyampaikan maksud dan tujuan kegiatan.

c. Keterampilan mengarahkan klien dalam kegiatan.

d. Keterampilan memandu klien untuk membuat kesimpulan dari kegiatan yang dilakukan.

6. Teknik Terapi Kursi Kosong

a. Keterampilan menyampaikan maksud dan tujuan kegiatan.

b. Keterampilan menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan klien menggunakan ‘kursi kosong’ sebagai tempat mengungkapkan isi hatinya.

c. Keterampilan memandu klien untuk mengeksplorasi permasalahannya.

7. Teknik Pengubahan Tingkah Laku

Keterampilan yang diperlukan :

a. Keterampilan menjadi model (contoh)

b. Keterampilan untuk memberikan hadiah (reward) dan hukuman (punishment) secara tepat (waktu, tempat, intensitas, kualitas).

c. Keterampilan untuk memberikan dorongan penguatan (reinforcement) terhadap perubahan perilaku klien yang semakin positif.

d. Keterampilan Observasi

e. Keterampilan mencatat dan membuat laporan.

8. Teknik Kompetisi

Keterampilan yang diperlukan :

a. Keterampilan menyampaikan maksud dan tujuan kompetisi

b. Keterampilan menciptakan situasi kompetisi yang kondusif

c. Keterampilan menyusun ‘aturan main’ yang dapat diikuti dan dilaksanakan oleh semua klien yang berkompetisi.

d. Keterampilan observasi

e. Keterampilan memberikan hadiah kepada pemenang kompetisi dengan tidak mengecilkan hati klien yang tidak menang.

9. Teknik Managemen Konflik

Keterampilan yang dibutuhkan :

a. Keterampilan mengendalikan situasi dan kondisi konflik.

b. Keterampilan mendengar

c. Keterampilan mengarahkan klien yang terlibat konflik untuk bersama-sama membuat alternatif solusi

d. Keterampilan mengarahkan klien untuk menggunakan solusi dan kesepakatan sebagai motivasi

REFERENSI DAN RUJUKAN

Cournoyer, Barry; The Social Work Skills Workbook (Fourth Edition); Thomson Brooks/Cole; USA; 2003.

Departemen Sosial RI; Standarisasi Pelayanan Kesejahteraan Sosial Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW); Jakarta; 2002.

Du Bois, Brenda and Karla Krogsrud Miley; Social Work – An Empowering Profession (Fifth Edition); Pearson; USA; 2005.

Newman, Barbara M. and Philip R. Newman; Development Through Life – A Psychosocial Approach (Ninth Edition); Thomson Wadsworth; USA; 2006.

Pemerintah RI; Undang-undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia; Jakarta; 1998.

Pemerintah RI; Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak; Jakarta; 2003.

Pemerintah RI; Peraturan Pemerintah RI Nomor 43 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Upaya Peningkatan Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia; Jakarta; 2004.

Walsh, Joseph; Theories for Direct Social Work Practice; Thomson Brooks/Cole; USA; 2006.

Wisheaford, Bradford et al; Techniques and Guidelines for Social Work Practice; USA; 2004.

About these ads